Kisah Anak Lasem di Puncak Soho


“Sebuah kisah yang sangat menganggumkan. Berawal dari kota kecil menjadi pimpinan perusahaan elit dan besar. Patut kita teladani dan pahami beliau sebagai pejuang sejati. Beliau juga tidak peduli juga kalau cara hemat kadang ditafsirkan pelit oleh orang-orang sekitarnya. Namun dengan cara itu beliau bisa menyelamatkan SOHO dan membawanya makin besar.” Em En Rizal


Karakter Andreas Halim Djamwari, Presiden Direktur Grup Soho, tampaknya setipe dengan Tan Eng Liang, pemilik sekaligus komisaris utama Grup Soho. Keduanya sama-sama rendah hati. Hal itu terbukti ketika tim SWA menyambangi kantor Andreas di Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur. Bahkan, karena kerendahan hati tersebut, di permulaan wawancara kami sempat berdebat selama 10 menit dengan Andreas dan timnya: Hindrianto Lukas, Direktur Pengelola PT Soho; Andrew Makmuri, Direktur Pengelola PT Soho; dan Harun Pramono, Direktur Pemasaran dan Penjualan Divisi Kesehatan Konsumer PT Soho.

Pangkal perdebatan cuma satu: Andreas menolak disebut telah meloncat empat peringkat, dari posisi tujuh ke posisi tiga, peringkat perusahaan farmasi dengan penjualan terbesar di Indonesia. “Kami masih nomor 7. Lihat saja data EPA, EDA. Tidak ah, kami bukan nomor 3.” ujar Andreas serius seraya diamini para direkturnya yang juga memaparkan data dari berbagai lembaga audit pasar farmasi.

Bayangkan, big boss perusahaan yang gaji, bonus dan kelangsungan kariernya ditentukan berdasarkan keberhasilan memajukan perusahaan menolak mati-matian disebut perusahaannya maju pesat. Bandingkan dengan pemimpin banyak perusahaan lain yang umumnya berusaha keras membesar-besarkan perusahaannya; terbesar dalam jumlah tenaga kerja, dana riset, ukuran pabrik, dan sebagainya.

Ketika SWA mengatakan bahwa peringkat ketiga yang diraih Grup Soho berdasarkan data salah satu lembaga riset independen yang khusus meriset industri farmasi, akhirnya, “Oh, mungkin itu kalau dilihat dari data total market audit ya….” ujar Hindrianto Lukas, yang akhirnya diiyakan Andreas.

Nah, sifat Andreas itu mirip Tan Eng Liang. Generasi kedua keluarga Tan Tjhoen Lim, pendiri Soho itu, juga tidak mau membesar-besarkan perusahaannya, meskipun pada 2007 penjualannya telah menembus Rp 1 triliun. Namun, kerendahhatian Tan Eng Liang itulah, sebagian orang mungkin menyebutnya konservatisme, yang telah menyelamatkan Grup Soho pada 1997. Pasalnya, sikap Tan Eng Liang dan ayahnya yang sangat hati-hati telah menahan laju ekspansi perusahaan lantaran kondisi kantongnya memang belum setebal sekarang. Akan tetapi, hasilnya mujarab: Soho terhindar dari belitan utang dalam dolar AS di masa krisis itu.

Setelah tampuk kepemimpinan beralih ke Andreas pada 2002, Tan tampaknya memilih suksesor yang setipe dengannya. Pilihan Tan tidak salah. Selama kepemimpinan Andreas, putra Lasem, Jawa Tengah, kelahiran 30 November 1948 itu, berbagai tonggak keberhasilan ditancapkan Grup Soho.

Prestasinya antara lain memenangi Palladium Award Hall of Fame pada 2007. Anugerah yang diberikan Palladium Group, konsultan sumber daya manusia, itu diberikan kepada perusahaan yang mencapai kinerja memuaskan setelah menerapkan Balanced Scorecard (BSC). Grup Soho memang layak menerimanya. Menurut data wawancara kami dengan Grup Soho pada 2007, setelah menerapkan BSC pada 2005, pendapatan tahunan Grup meningkat rata-rata 25% sejak 2004. Laba sebelum pajak selama dua tahun terakhir di masa itu juga meningkat dari 8% menjadi 11%. Pada 2006-07 pangsa pasar Soho pun naik dari 4,6% menjadi 7,9%.

Menanggapi keberhasilan yang diraihnya, Andreas lagi-lagi bilang, yang banyak bekerja bagi perusahaan adalah tim yang dipimpinnya. Menurutnya, karyawannyalah yang banyak membantu. “Sehingga kami dapat bersama-sama menciptakan result yang bagus dan tumbuh sekitar 20% dari pasar dalam beberapa tahun terakhir ini.” ujarnya.

Andreas bukanlah orang baru di farmasi. Setelah lulus sebagai sarjana biologi dari Universitas Gadjah Mada pada 1971, selama hampir 36 tahun ia menggeluti dunia obat-obatan, mulai dari level terbawah hingga kini menjadi presdir. Begitu kelar kuliah, ia langsung menjadi tenaga penjual obat (medical representative) Merck. Setelah mencapai posisi manajer pemasaran, ayah dua putri dan satu putra itu pindah ke Nicholas Park Davis. Tak lama kemudian, ia hijrah lagi ke Pharos dan sempat menduduki kursi direktur pemasaran, sebelum akhirnya balik ke Nicholas pada 1988.

Pada 1992, Andreas menjajal dunia ritel dengan bergabung sebagai direktur di Makro, tapi hanya bertahan setahun. Kemudian, ia hengkang ke Indofood, menjadi general manager pada 1993-97. Berbagai pengalaman kerja tersebut telah menempa insting bisnis Andreas. Dari situ ia belajar banyak hal. Di antaranya tentang kepemimpinan. Salah satu prinsip yang dianutnya dalam memimpin adalah jangan ragu memercayai anak buah. “Jadi, anak buah juga harus diberikan kewenangan untuk memutuskan.” katanya menandaskan.

Salah satu contoh pelibatan anak buah, bahkan hingga di level bawah, adalah dalam pengambilan keputusan untuk menentukan nama merek produk-produk Soho. Contohnya, merek Laxing. Dalam menetapkan merek produk pelangsing ini, manajemen Soho mengadakan sayembara internal agar karyawan berlomba-lomba memberikan nama bagi produk tersebut, dan karyawan yang usulan namanya terpilih akan mendapatkan hadiah. “Yang menang adalah karyawan dari bagian PPIC. Nama yang saya ajukan ditolak, ha-ha-ha.” ungkap Andreas seraya tertawa.

Meski memercayai anak buah dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan, bukan berarti ia lepas tangan begitu saja. “Pak Andreas paham benar urusan pabrik dan mau turun langsung ke pabrik dan ke pasar.” ujar Andrew Makmuri, Direktur Pengelola PT Parit Padang, distributor Grup Soho. Pada pertengahan Januari lalu, misalnya, Andreas bersama Andrew baru saja menyambangi kantor cabang, gerai serta beberapa dokter di Jember. “Kami dari pagi sampai pukul 9 malam field visit lho.” ujarnya. Menurut Andrew, kegiatan itu memang rutin dilakukan Andreas 2-3 bulan sekali. “ Sebagai pemimpin, kita harus memberi contoh, tidak bisa cuma duduk di belakang meja.” kata Andreas membenarkan ucapan Andrew.

Pengendara Toyota Harrier hitam itu memang tipe pekerja keras. “Saya pukul 6 pagi sudah tiba di kantor, sekalian ngasih contoh ke karyawan.” ujar Andreas yang terbiasa menggelar rapat mingguan untuk berkoordinasi dan memotivasi para direktur pengelolanya. Barulah pada pukul 6 sore, kalau tidak ada jadwal makan malam dengan relasi, biasanya ia sudah bersiap pulang kembali ke rumahnya di Tomang Barat, Jakarta Barat.

Sudah begitu, hari Minggu masih juga dipakai Andreas untuk bekerja. Waktu yang semestinya untuk istirahat malah digunakan untuk membalas surat-surat elektronik. “Selama bekerja di kantor, saya tidak sempat membalas seluruh, sekitar 100 e-mail, per hari yang masuk.” ungkap Andreas yang berlangganan Harvard Business Review.

Soal efisiensi juga diajarkan oleh pemimpin 3.600 karyawan Grup Soho itu. Misalnya, dalam hal penggunaan fasilitas pesawat terbang. Sebagai pemimpin perusahaan besar, sebetulnya wajar seandainya Andreas menggunakan pesawat terbang kelas eksekutif. Namun, itu tak dilakukannya. Untuk ke luar negeri atau ke daerah, ia justru memilih Air Asia atau pesawat dengan kelas ekonomi saja. “Sekalian mengajarkan efisiensi.” ujarnya.

Andreas memang terbiasa menggunakan jasa pesawat terbang yang murah meriah, bahkan sejak menjadi direktur perusahaan farmasi multinasional. Waktu itu, seingat Andreas, karyawan perusahaan tersebut diperkenankan duduk di kelas bisnis asalkan perjalanannya melebihi empat jam. Kenyataannya, Andreas lebih memilih menggunakan kelas ekonomi. “Waktu itu anak buah saya banyak yang menggunakan kelas bisnis sementara saya tetap memakai kelas ekonomi. Ya sudahlah, itu hak mereka.” katanya santai.

Bagi sebagian orang, langkah Andreas bisa jadi dianggap pelit. Akan tetapi, tidak bagi Hindrianto Lukas. “Pak Andreas itu mengelola perusahaan seperti memegang duitnya sendiri. Setiap sen yang keluar direncanakan secara hati-hati. Cermat.” ujar Lukas yang sudah belasan tahun bergabung di Grup Soho.

Meski demikian, Andreas disarankan oleh salah seorang karyawannya untuk sedikit mengendurkan langkah efisiensinya. “Bagaimanapun, untuk growth perlu mengendurkan sedikit efisiensi dan mengalokasikan sumber daya yang lebih di satu aspek.” kata sang karyawan yang enggan disebutkan namanya itu.

Namun, tampaknya saran karyawan itu belum akan didengar Andreas dalam setahun ke depan. Pasalnya, dalam wawancara, Andreas mengemukakan Soho akan mengerem laju ekspansinya setelah sebelumnya cukup ekspansif dalam berinvestasi. Selama 10 tahun terakhir, berbagai investasi besar memang telah digelar Soho. Antara lain, pengintegrasian sistem TI di tiga anak usahanya, PT Parit Padang, PT Soho dan PT Ethica. Investasi yang dibenamkan di tiga anak usaha pada 1998 itu mencapai US$ 2 juta. Lantas, pada 2005 demi meningkatkan kinerja perusahaan, Soho mengaplikasikan BSC yang menelan duit US$ 1 juta.

Selanjutnya, pada 2008 didirikan PT Global Ritel Inti, perusahaan yang mengelola lini bisnis baru Grup Soho, apotek. “Kami baru buka satu kemarin, dan kemungkinan akan buka dua lagi tahun 2009 beserta dengan dokternya, jadi seperti klinik.” ujar Andreas. Jadi, meski berhasil menembus omset Rp 1 triliun pada 2007 dan 2008, ia tetap berpendapat, “Tahun 2009 bukan tahun yang baik untuk berinvestasi.”

Ke depan, ia berniat membawa Soho ke kancah global dengan sepenuh hati. “Ekspor kami sekarang baru 1% ke Nigeria, kebanyakan produk berbasis curcuma, lalu merek Fitkom dan Diapet. Akan lebih bagus kalau ekspor bisa mencapai 10%-20%. Tapi, hal itu sepertinya baru bisa tercapai 10-15 tahun lagi.” paparnya.

Untuk menunjang mimpinya itu, saat ini Soho tengah berkonsentrasi pada pengembangan SDM. Andreas berencana bekerja sama dengan universitas dan lembaga lain untuk memperbaiki sistem di Soho. “Kami coba menata human resources agar menjadi lebih baik. Jika orang tersebut bagus, dan ditunjang oleh sistem dan proses yang baik, sales atau customer akan lebih mudah didapatkan.” tutur Andreas.

Apa yang didapatkan Andreas atas semua kerja kerasnya itu? Opsi saham? “Saya tidak dapat saham apa pun. Saya murni profesional. Konsentrasi saya hanya satu, Soho, dan tidak punya usaha lain. Tugas ini akan saya jalani sekuatnya, sampai saya harus pensiun nantinya.” kata pehobi wisata kuliner di warung kaki lima ini. (Reportase: Kristiana Anissa)

BOKS:

Komunikasi Andreas dengan Tan Eng Lian

Menurut Andreas Halim Djamwari, Presdir Grup Soho, dirinya banyak berkomunikasi via telepon, SMS dan e-mail dengan Tan Eng Lian, komisaris utama sekaligus pemilik Grup Soho yang tinggal di Sydney, Australia. Bahkan tidak hanya dengan Andreas, terkadang Tan Eng Lian berkomunikasi langsung dengan direktur pengelola atau direktur masing-masing divisi meskipun tidak setiap hari.

Akan tetapi, jika kebetulan Tan Eng Lian sedang berada di Indonesia, pihak manajemen Soho dapat setiap hari berkomunikasi dengannya. Andreas juga mengatakan, kepercayaan Tan Eng Lian terhadap tim kerja Soho memang besar, jadi tidak hanya kepada dirinya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: