Pendakian Gunung Wilis


Donor Darah Masal di Gunung Wilis

02 04 November 2007

Diketik secara serius dan telaten : Em En Rizal

Sweet November

Pendakian kali ini benar-benar mirip telenovela atau sinetron. Bagaimana tidak, aku sebagai pencetus ide ini sempat membatalkan keikutsertaan karena suatu masalah. Bagitu juga dengan jadwal dan anggaran dana yang sudah kususun secara teliti menjadi tidak tersalurkan karena aku batal ikut.

Namun setelah mencari jalan keluar (dibantu teman-teman yang lain) akhirnya aku memutuskan ikut juga. Namun masalah belum kapok juga menghampiri kami. Peserta yang ingin ikut sudah kudaftar dan kuhubungi (beberapa dihubungi teman yang lain) untuk konfirmasi keikutsertaannya. Semua menjawab siap (ini jawaban dari teman yang kumintai bantuan). Namun menjelang hari H, ternyata ada beberapa peserta yang belum tahu dan menanyakan perihal jadi tidaknya pendakian. Hal yang selalu terjadi setiap kali pendakian L

Dengan sabar dan telaten (aku banget) akhirnya semua informasi bisa tersalurkan dengan baik dan lengkap. Sayang mendekati detik-detik keberangkatan, Dias mengirimkan sms yang sangat membuat kami semua trenyuh. Sms yang  mengatakan kalau dia tidak bisa ikut karena dia harus ke dokter. Aku langsung mendoakan agar dia sembuh dan sehat selalu namun begitu tahu dia berobat untuk jerawatnya hemmmm…….tetep kudoakan agar dia menjadi wanita yang baik dan sholehah (amiiin).

Dan akhirnya tim berangkat. Di rumah Mbak Siti yang terletak di Candi, Aku (em en rizal, red), Andi (si orang item), David (sang fotografer kita) dan mas Yudha mempacking semua peralatan yang dibutuhkan. Karena alasan tidak mendapat informasi tentang pendakian ini, Mas Yudha hanya membawa tas punggung biasa (alasan yang diulang-ulang sepanjang perjalanan ke Wilis). Aku dan Andi sempat berpandangan dan menanamkan virus dendam yang teramat dalam di hati kami yang selalu baik.

Tepat pukul 23.53 WIB kami meninggalkan Candi. Kulihat Mbak Siti menatap rumahnya berkali-kali. Aku mendekatinya dan berkata dengan bijak dan kebapakan.

“Sudahlah, Mbak. Cuma tiga hari kok. Nggak akan hilang kemana-mana tuh rumah.”

“Aku nggak mikirin rumahku. Aku hanya mikirin sepeda kalian. Gimana kalau ilang? Kan belum teruji keamanan di rumahku. Apalagi kalau ada yang tahu ada dua sepeda di situ.” Jawabnya simple sambil ngloyor pergi.

Aku , Andi dan David langsung berpandangan cemas. Wah nanti pulang ada nggak ya sepedaku? Sekarang gantian aku yang memandang cemas ke belakang!

***********

Aku terkantuk-kantuk memandang ke arah jendela bus. Tak kulihat pemandangan yang menarik di luar sana. Hanya gelap dan gelap saja. Aku memutuskan untuk tidur lagi. Namun sebuah tepukan langsung menghentikan nyawaku yang sedang bersiap pergi ke nirwana bakrie eh nirwana ketujuh.

“Sebentar lagi kita nyampe. Siap-siap.” Kata Andi dengan muka sangar (harap maklum, ini cacat bawaan). Aku pikir dia bercanda karena memang tidak bisa dibedakan mana muka serius dan bercanda. Sama-sama sangar. Namun ketika kernet bus bilang sebentar lagi terminal Tulungagung. Aku pun langsung beringsut bangun. Aku menoleh ke belakang dan menemukan Mas Yudha dan Mbak Siti yang tidur sangat aneh (katanya sih efek obat batuk ????).

Kami semua dengan sigap langsung turun. Aku segera menuju mushola dan segera melepas sepatuku karena hasrat yang sudah tidak bisa dibendung. Tapi jangan kagum dulu yak arena aku mau BAK hehehe. Sedangkan yang lain duduk-duduk sambil menikmati hawa dingin kota Tulungagung. Ups ada yang mengikuti ulahku, tak lain tak bukan, David.

Setelah selesai, aku membuka catatanku. Ternyata kami menempuh perjalanan Surabaya – Tulungagung selama ± 3,5 jam. Kami, rombongan Surabaya, sedang menunggu rombongan Tulungagung. Rombongan Surabaya sendiri terdiri dari : Andi, David, Mas Yudha. Mb. Siti dan aku (Em En Rizal, red). Sedangkan dari Tulungagung ada 2 orang jelek. Tako dan Bayu.

Saat ini mereka sedang di rumah. Mempersiapkan diri. Bayu juga sedang sibuk mencari mobil untuk mengangkut kami semua. Sambil menunggu, kami mencari kopi panas dan sebuah camilan untuk mengganjal perut. Sayang yang kami temui hanya sebuah kopi panas dan pisang. Namun semua tetap masuk karena kami terserang lapar akut. Penjualnya sampai heran melihat betapa rakusnya kami terutama Tako. Disini aku bercanda bahwa aku bisa dengan mudah mendaki gunung Wilis. Semeru aja kudaki dengan enteng masak Wilis kagak bisa. Suatu candaan yang kusesali kemudian.

Tepat pukul 06. 28 WIB kami semua berangkat menuju Penampihan lewat Sendang. Inilah sedikit keuntungan dari menyewa kendaraan kesana. Kami menjadi lebih santai dalam mengamati pemandangan disekitar kami. Kami semua bercanda dan saling ejek terutama Tako dan Andi. Aku hanya diam menikmati hawa dan nuansa pedesaan. (ceritanya jadi cool hahaha).

Walau hujan rintik-rintik menghujani kami sepanjang perjalanan, namun kami tetap ceria. Kami bahkan bernyanyi dan berteriak memanggil para petani dan melambaikan tangan pada mereka. Suatu pertanda kecil kalau masa kecil kami tidak bahagia. Bahkan Tako menggoda anak-anak sekolah yang berangkat tanpa jas hujan. Aku juga sempat heran bagaimana mereka melakukan kegiatan belajar mengajar dalam keadaan basah seperti itu ya?.

Namun sepertinya Wilis tidak suka dengan cara bercanda kami. Mereka langsung memberi peringatan dengan sebuah cobaan kecil. Ketika mendekati desa Geger, desa terakhir pendakian Wilis, mobil pengantar mogok. Kami terpaksa turun dan menunggu mesinnya hidup lagi. Berkali-kali supir dan kernetnya mencoba menghidupkan namun tak kunjung hidup. Aku menatap jam yang terus bergerak hingga tak terasa sudah lebih 30 menit kami menunggu. Hujan pun tak kunjung reda. Dasar apes!

Setelah berkonsultasi dengan supirnya, bapaknya Bayu, akhirnya kami berjalan kaki. Dan jaraknya lumayan, 3 KM. Yah akhirnya kami mengalah dan berjalan sambil menikmati lenguhan sapi dan bau kotorannya. Rintik hujan dan hawa dingin kurasakan sebagai penyambutan Wilis atas kedatangan kami. Aku harap ini bukan suatu masalah namun suatu berkah. Hujan kan pertanda baik??

Dan setelah berjalan 30 menit, kami sampai di Desa Geger. Kami berhenti di warung sambil mencicipi segelas teh dan kopi hangat. Tak lupa bagi perut tersayang kami, sebuah nasi lodeh plus telur goreng kami paksa masuk. Dan hasilnya, tenaga kami menjadi berlipat dan semangat membumbung tinggi.

“Ayo kita berangkat, Mas. “ ucap Tako tak sabar. Yah walau badannya bongsor(padahal lebih pas disebut gendut) namun kulihat semangat besar disana. Senyuman dan gerakan tubuhnya menandakan dia tidak sabar untuk menaklukan Wilis. Mas Yudha yang diajak bicara langsung menganggukkan kepala dan membimbing Tako. Dan tepat pukul 09.12 WIB rombongan berangkat. Dalam hati, aku berharap bisa mendapatkan “sesuatu” disana seperti yang biasa kudapatkan di gunung-gunung yang lain.

Naik Naik Naik Naik ke Puncak Wilis

Candi Penampihan bisa kami tempuh dalam waktu ± 30 menit. Terjadi sedikit kepanikan karena beberapa anjing menggonggongi dan mengikuti kami. Namun semuanya tiba-tiba menghilang setelah kami sampai di Candi (aneh!!!). Aku memandang Candi Penampihan didepanku dengan seksama. Hanya sebuah lingga dan tumpukan batu-batu kali yang dibuat melingkar. Aku mencoba mencari tahu tentang asal-usul candi ini namun tak kudapatkan informasi itu bahkan sampai aku pulang.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Watu Godeg. Aku berprediksi kalau jalannya makadam seperti ini maka semua akan mudah kutempuh dan kulalui. Hamparan kebun teh yang telah diganti jadi ladang tebu menemani kami sepanjang jalan. Bahkan David dan Tako mengambil beberapa potong tebu yang telah terpotong dan dibiarkan tergeletak dipinggir jalan. Mereka, dan tentu saja Mas Yudha, makan dengan rakus. Tako mencoba memamerkan kekuatan giginya untuk membuka kulit tebu mirip pemain sirkus atau pemain debus. Aku hanya menatapnya heran. Aku sewaktu kecil juga sering melakukannya namun kalau sekarang aku lakukan lagi, hancurlah gigiku. Tapi aku heran kenapa Tako masih bisa melakukannya dengan sangat baik. Apakah ini kerjaannya kalo pulang kampong ya? Makanya banyak kulit tebu di sekitar rumahnya (hahahahaha)

Sebenarnya ada dua jalur. Jalur kebun sayur dan jalur air terjun. Kata Bayu, jalur air terjun lebih sulit didaki kalau musim hujan sedangkan kebun sayur “agak” mudah. Kami mengikuti yang disarankan Bayu dengan mengambil jalur kebun sayur terlebih dahulu. Memang kebun sayur ini kami lalui. Sebuah kebun yang berisi tanaman sayur sejenis kol. Bahkan dibeberapa lokasi sudah dipanen.

Namun Wilis mulai menunjukan wajahnya yang sebenarnya. Tanjakan demi tanjakan menyambut kami dengan sangat ganas. Hujan yang turun tiada henti juga mulai merepotkan perjalanan kami. Jalan makin licin dan terus menanjak. Aku mulai meragukan catper yang kubaca sebelum berangkat. Catper itu mengatakan kalau jalur dua, jalur yang kulalui sekarang, adalah landai, penuh pemandangan indah dan memutar. Namun yang kudapatkan hanya pohon-pohon khas dataran tinggi dan jalan yang terus menanjak. Tak ada “bonus” ataupun turunan. Semua menanjak!!

Semangat yang begitu menggelora mulai meredup sedikit demi sedikit seiring mendung yang terus bergerak menutupi pergerakan cahaya Surya. Aku menatap wajah-wajah yang penuh kelelahan. Dan suatu keanehan terjadi. Mbak Siti melambat (Suatu keajaiban dunia kalo mbak Siti jalannya pelan) dan berkali-kali tersusul oleh Andi dan Tako. Aku melihat rona kelelahan disana. Apakah yang terjadi dengannya? Apakah sangat berat gunung ini baginya? Padahal semeru, rinjani, merapi Triple S sangatlah mudah baginya.

Dan masalah utama pun menyapa kami. Pacet-pacet yang telah lama menunggu kami, mulai keluar bermunculan. Mereka menanti kami dengan setia di balik daun-daun yang mati dan menunggu waktu yang tepat untuk menggigit mangsanya. Gerakannya yang lincah mirip pesenam indah membuatnya dengan leluasa menuju daerah yang mudah untuk menggigit. Dan korban pun berjatuhan. Tako, David, Andi dan aku (Em En Rizal, Narsis.com) sendiri merasakannya. Bagi Pacet yang menggigit Tako dan David, mereka sangat beruntung. Ini bisa dilihat dari ukuran mereka yang ternyata lebih gemuk daripada yang menggigit aku dan Andi. Memang itu hari baik mereka (pacet-pacet yang menggigit dua bocah gembrot dan sableng itu!)

Setelah berjuang mati-matian termasuk jatuh dalam posisi “indah” dan tengkurap, akhirnya aku sampai juga di Watu Godeg. Kulihat arloji milik David yang kupinjam, ternyata kami telah berjalan kurang lebih selama tiga jam. Namun kedengar bayu mengatakan kalau dia, Mas Yudha dan Mbak Siti telah menunggu rombongan terakhir selama satu jam. Jadi mereka hanya menempuhnya dalam dua jam. (ini baru mbak siti)

Watu Godeg adalah sebuah lokasi yang ditandai sebuah batu berukuran raksasa yang berada di samping jalan. Batu ini berjenis batu kali yang berukuran raksasa. Aku nggak tahu dimana Godegnya. Namun kata Mas Yudha mungkin pertama kali ditemukan, batu itu dalam keadaan penuh lumut atau rambut hutan sehingga mirip Godeg. Aku hanya mengangguk, menelan penjelasan itu mentah-mentah karena tak ada penjelasan lain yang masuk akal. Maklum masih terbawa suasana kampus. Yang nerangin kan pak dosen hehehe.

Kami istirahat sebentar sambil makan sedikit makanan untuk mengganjal dan mengembalikan tenaga kami. Kami melanjutkan perjalanan dengan asumsi kami akan ngecamp di puncak. Aku sih ikut saja karena memang kalau bolak-balik seperti yang kujadwalkan sangat tidak mungkin. Bisa membuat tubuh kami drop. Tepat pukul 13.21 WIB kami menuju puncak, menekuni tanjakan demi tanjakan.

Namun ketika menemukan tempat datar, akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp karena waktu yang semakin senja. Kami harus bergerak lebih cepat untuk sampai ke puncak. Dan setelah mendirikan tenda darurat, hanya untuk tas dan barang berharga, kami menuju puncak. Dan hasilnya jalan kami lebih cepat dan konstan. Dipertengahan jalan, kami sempat berhenti dan menikmati makanan yang kami bawa. Buah pear dan tebu manis menemani istirahat kami. Hemm segarnya….

Dan puncak pun akhirnya berhasil kami kunjungi. Kami sampai pada pukul 16.20 WIB. Satu setengah jam perjalanan. Tidak seperti puncak-puncak yang biasa aku temui. Puncak Wilis masih belum bisa dibilang puncak. Memang ini bukan puncak sejatinya namun inilah puncak tertinggi kalau mengambil jalur Tulungagung. Puncak Liman namanya. Banyak pohon yang masih berdiri di sekitar puncak. Inilah gambaran puncak dengan ketinggian “hanya” 2500-an.

Setelah bernasis ria dengan menahan dingin dan tremor, akhirnya kami meninggalkan puncak pada pukul 17.11 WIB. Rencana melihat sunset kami batalkan karena kami benar-benar tidak bisa melihat apa-apa selain kabut dan hujan. Kami pun tak  mau mati kedinginan di atas. Maka segeralah kami meluncur menuju tempat ngecamp.

***********

Sambil menunggu nasi masak, aku menyajikan secangkir kopi dan teh hangat buat teman-teman. Tiap orang punya minuman kesukaan masing-masing. Mas Yudha dan Mbak Siti memesan kopi kental atau klasik (jangan-jangan ini rahasia mereka bisa jalan lama dan cepat!!!), sedangkan Andi dan aku cukup Nescafe biasa saja. David kali ini menolak kopi. Dia ngotot bikin teh Sisri. Sedangkan dua teman baru kita memilih ikut arus terbanyak dan yang masih tersisa (maklum, masih jaim).

Sop-sopan pun telah tersaji. Nasi pun sudah matang. Maka dengan lahap kami menikmati makan malam. Makan malam di Wilis. Kami memakannya penuh nafsu. Maklum perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Makan malam yang sederhana pun terasa sangat lezat dan nikmat apalagi diringi musik hujan rintik-rintik. Oh indahnya……

Setelah selesai makan, kami pun kebingungan untuk mencari kesibukan lain. Sayang kartu remi tidak kami bawa (ada terdakwanya!!!!). Setelah tidak menemukan acara lain. Kami pun memutuskan untuk masak lagi biar ada kesibukan. Inilah kesalahan fatal yang telah dilakukakn karena kami kehabisan air untuk masak esok harinya.

************

Donor Darah Massal

Pagi datang menjelang. Setelah kemarin kami mengalami hari buruk dengan hujan yang tiada henti mengguyur, akhirnya hari ini kami mendapatkan secercah harapan secerah cuaca pagi yang sangat indah. Sinar matahari bergantian menerobos sela-sela daun hingga sampai di atap tenda kami. Membangunkan para pendaki yang sedang menikmati kehangatan dibalik sleeping bag, yang telah lama tak menghampiri.

Aku membuka mataku. Kulihat hari sudah terang. Aku segera duduk dan berusaha menyadari sedang dimanakah aku kini. Setelah nyawaku terkumpul, aku segera keluar. Dan ketika keluar, cahaya matahari langsung menyapaku. Aku berteriak kegirangan dan mencoba membangunkan yang lain. Semua segera keluar kecuali satu orang, Mas Yudha!

Ketika kulihat keatas, Mbak Siti dengan gerakan lincah dan akrobatik naik turun bukit untuk mencari view yang bagus. Langsung saja mulut usil Tako menyergapnya dengan berbagai kata-kata usilnya. Mbak Siti cuek dan terus memotret. Tako yang tak tahan dicuekin langsung mendekat.

“Mbak…”

“Apa…??”

“Aku di foto dong. Masa aku kalah ganteng sih dengan pohon hijau itu??” ucapnya dengan wajah protes.

Oalah, ternyata dia minta jatah foto. Mbak Siti menarik nafas panjang dan menuruti keinginan Tako daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membahayakan keselamatan tim misalnya dia ngambek nggak mau pulang. Kan bisa jadi merepotkan!! Apalagi badannya sebesar itu, bisa payah aku kalo disuruh gotong dia.

Setelah semua bangun, kami pun packing dan segera menuju ke Watu Godeg. Kami tidak sarapan karena kami kehabisan air. Air hanya cukup untuk minum saja. Maka segeralah kami turun ke Watu Godeg. Dan jarak yang kami tempuh satu jam setengah kemarin, bisa kami lalui hanya setengah jam. Mungkin rombongan Mas Yudha dkk lebih cepat lagi.

Di Watu Godeg, teman-teman memeriksa kaki masing-maisng. Mereka tahu mereka telah diincar pacet. Dan benarlah dugaan mereka. Kali ini Andi, David, Mbak Siti dan tentu saja Tako telah terkena pacet. Bayu pun menyusul kemudian. Dan serangan ini bukan hanya sampai disitu saja, pacet terus menerus menyerang kami sepanjang jalan. Jadilah kami donor darah massal secara paksa.

Setelah semua bersih dari pacet (sempat di foto juga loh, dan modelnya menahan sakit karena fotografernya kelamaan mencetnya), kami menuju air terjun Penampihan. Jalurnya, kata Bayu, sangat curam dan licin, jadi hati-hati dan wasapadalah. Dia memperkirakan akan banyak yang jatuh.

Dan dugaannya tepat 100 %. Belum apa-apa kudengar suara gedebag gedebug. Ternyata Mbak Siti KO juga. Andi. Tako, aku dan David?? Jangan ditanya. Kami jatuh berulang-ulang.

Namun semua perjuangan itu menjadi sia-sia kerena kami tersesat. Bayu lupa jalurnya dan dia tidak yakin dengan jalur yang kami lalui sekarang. Daripada kami tersesat, kami terpaksa kembali ke Watu Godeg. Padahal membayangkan saja malasnya luar biasa. Menanjak dengan kemiringan 75 derajat dan satu lagi, sangat licin. Uuuugh.

Setelah sampai di Watu Godeg, tanpa buang waktu langsung turun ke Penampihan lewat jalur kedua. Jalur kebun Sayur. Perjalanan ini relatif cepat namun karena ada beberapa teman yang sakit seperti Tako dan David karena telah berdonor darah dan lecet-lecet. Bahkan Tako harus berjalan diatas satu kakinya karena terkilir saat dia jatuh dari atas. Yah mirip gentong yang jatuh gitu. Bisa dibayangkan kan ??

Dan setelah berjalan dua jam, aku dan Tako sampai di kebun Tebu. Kami berdua bertemu David yang lagi asyik mandi. Aku pun tergiur dan membasuh wajahku dengan air yang sangat dingin itu. Tako pun mengikutinya. Kedua bocah bertubuh endut itu pun keasyikan mandi. Kami tidak tahu kalau itu sarang pacet. Kami baru tahu setelah bertemu dengan rombongan pertama yang diserang pacet secara bertubu-tubi.

Aku meninggalkan mereka berdua menikmati dinginnya air sungai. Aku mempunyai tujuan sendiri. Aku hendak menikmati tebu yang kemarin ku kupas diatas. Aku mencari dan terus mencari. Beberapa kali aku menemui tebu yang masih belum masak, sudah tua dan tebu-tebu yang jelek. Tidak terasa aku sudah sampai candi Penampihan. Menurut perjanjian kami akan berkumpul di Candi namun tidak satupun kutemui orang disana. Jadi aku terus melangkah. Aku menoleh kebelakang. Pasti mereka berdua (dua bocah ndut itu, red) bisa mencari jalan pulang sendiri. Toh ini sudah masuk desa.

Aku menyusuri jalan makadam menuju desa Geger. Ketika memasuki kebun ke tiga, sebelum kebun teh, aku menemukan sebuah tebu yang habis panen. Aku meneliti sebentar, berharap ada yang tergolek tak berdaya. Yup, ternyata ada walau tidak panjang. Namun tak apalah. Dan kukupas pelan-pelan sambil jalan. Ketika kunikmati, uhh sangat manis dan segar. Hujan rintik-rintik tak membuatku melangkah cepat. Justru aku makin memperlambat langkahku, sambil menikmati tebu Wilis. Toh dua bocah endut itu belum kelihatan juga.

Namun karena tak fokus, aku sempat tersesat ke atas. Aku seharusnya lurus malah belok ke kiri, menuju desa diatas desa Geger. Jadilah aku kebingungan. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya aku kembali ke jalan yang benar dan menemukan empat pendaki yang senyum-senyum karena telah kekenyangan. Aku langsung masuk dan menyantap nasi lodeh plus ayam kuah yang telah mereka pesanbkan. Hemm lezat sekali.

Tak berapa lama, David dan Tako datang. Mereka juga langsung makan dan menikmati teh hangat dari dalam warung. Sedangkan yang lain mencoba mencari angkot untuk menumpang sampai Sendang. Dari sana langsung menuju Tulungagung. Namun sampai jam 3 lebih, kami tidak dapat angkot-angkot juga. Aku dan Mas Yudha bahkan sempat tertidur. Ketika bangun tahu-tahu Andi sudah “kabur’ dengan penduduk lokal, mencari angkot untuk kami.

Karena hawa semakin dingin dan tremor semakin kuat, kami memutuskan untuk jemput Andi. Kami berjalan menyusuri jalan aspal. Namun baru lima belas menit mobil jemputan sudah datang dan kami pun tersenyum senang karena kaki sudah tidak bisa diajak kompromi. Kami telah berhasil mencapai puncak Wilis yang sempat kami remehkan karena ketinggiannya. Namun ternyata dia seberat Argopuro dan semenantang Arjuno. Ternyata ketinggian tak menjamin kemudahan. Itu pelajaran penting yang kupetik dalam pendakian kali ini. (Em En Rizal. Maaf Narsis lagi hehehe)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • masbas  On Februari 13, 2011 at 12:24 pm

    hebat kapan ya bisa ikut kepuncak

    • emenrizal  On Februari 14, 2011 at 7:41 am

      Segera saja, langkah pertama itu menentukan kapan anda ke puncak hehehe

  • travellers2009  On Januari 24, 2012 at 8:44 am

    yang dipuncak itu apa batu kuno mas?? (peninggalan)

    • emenrizal  On Januari 24, 2012 at 10:45 am

      itu bukan batu kuno, hanya batu biasa yang disusun sebagai penanda kalau itu sudah puncak..
      beda dengn puncak lainnya, dimana dipuncak, hanya rerumputan yg tampak. Tp di Wilis walo udh puncak, pohon2 masih banyaaak yg iduuup, maklum puncaknya ga terlalu tinggi🙂

  • haaan  On Februari 8, 2012 at 2:33 pm

    lyat pawn 1000 gk ndk puncaknya?

  • citraciprutworld  On Maret 20, 2012 at 7:44 am

    berat kah medan menuju puncak Wilis saat ini? karena rencananya kl jadi minggu depan saya jalan kesana.

    • emenrizal  On April 13, 2012 at 12:06 pm

      tidak terlalu berat, tapi jangan pernah menyepelekannya, ntar ga sampe puncak2 walo gunungnya gak tinggi2 amat hehehe

      • citraciprutworld  On April 14, 2012 at 1:30 am

        Butuh berapa hari untuk bisa naik-turun G.Wilis?
        Seumpama sabtu pagi perjalanan, minggu siang ato sore bisa ampek bawah kah???
        pengen main ke sana tp cuman punya waktu sabtu-minggu doaaang soale.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: