Belajar dari Para Champion: Megasurya Mas


Megasurya Mas: Menembus 118 Negara

Oleh: Dede Suryadi

“Tak hanya Wings yang jago menembus dunia dengan sabunnya. Mega Surya Mas dengan Sabun Harmony-nya juga tidak kalah hebat. Bagaimana sepak terjangnya? Silahkan baca artikel dibawah ini?” Em En Rizal

Berkat inovasinya dalam menciptakan sabun beraroma buah asli, Megasurya sukses memasarkan produknya di 118 negara. Semua itu tak diraih dalam sekejap. Berbagai upaya penetrasi pasar global dilakoni perusahaan yang berbasis di Sidoarjo ini.

Sejak diekspor pertama kali pada tahun 2000 penetrasi pasar eskpor sabun Harmony tergolong sangat agresif “Memang, sejak lahirnya sabun buah Harmony, kami mulai konsentrasi pada pasar internasional.” kata Hadi Sofian, Manajer Pemasaran Senior PT Megasurya Mas. Kini, sabun berukuran 80 gram ini sudah ada di Timur Tengah, Afrika, serta negara-negara Asia dari Jepang, Korea sampai India. Pasar di benua Australia, Eropa dan Amerika pun ditaklukkannya. Di benua Amerika, sabun Harmony ada di Kanada, Argentina, Brasil, Peru, juga Kolombia di negeri bahkan menjadi satu-satunya produk Indonesia yang masuk supermarket di sana. Di Afrika, Harmony berhasil masuk, antara lain ke Kongo, Ghana dan Nigeria.

Selain Harmony, Megasurya punya satu lagi produk andalan ekspor: Lervia Milk Soap — sabun mandi yang diperkaya dengan ekstrak susu yang mengandung moisturizer. Sabun dengan konsep yang unik ini mampu menerobos 30 negara, seperti Jepang, Taiwan, Afghanistan dan beberapa negara Eropa. Bahkan, di Afghanistan sabun susu ini diklaim menjadi pemimpin pasar sabun impor.

Dengan keberhasilannya itu, nilai ekspor Megasurya terus meningkat dengan pertumbuhan dalam lima tahun terakhir rata-rata mencapai 29,19%. Negara penyumbang ekspor terbesar bagi Megasurya adalah India (28,48%), diikuti Panama (13,55%) dan Pakistan (6,12%). Tahun lalu, perusahaan yang didirikan Bahari Karim pada 1992 ini mampu membukukan nilai ekspor US$ 16,4 juta atau menyumbang 15,66% terhadap total penjualan Megasurya pada 2005 yang mencapai Rp 1 triliun lebih.

Sejatinya, tak hanya kedua produk itu yang diproduksi Megasurya. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam industri olahan crude palm oil, Megasurya telah memiliki 33 merek yang tidak hanya dipatenkan di Indonesia, tapi juga di Pakistan, Laos, Kamboja dan Filipina (sebagian). “Saat ini sekitar 64% dari total produksi Megasurya untuk pasar internasional,” ujar Ria Juli Widiastuti, Manajer Pemasaran Megasurya. Namun, kendati dua pertiga pasarnya adalah ekspor, perusahaan ini tak memandang enteng pasar domestik. Pasar Indonesia tetap dianggap sangat penting.

Untuk menembus pasar global, banyak upaya yang telah dilakukan perusahaan ini guna memperluas jaringan distribusinya, mulai dari ikut pameran di berbagai negara hingga mengundang calon mitra ke pabriknya di Jawa Timur. Pameran yang dikutinya bukan hanya pameran internasional di ibu kota negara seperti di Kairo, Zaire, Moskow, India, Pakistan dan Cina, tapi di pameran berbagai ibu kota provinsi pula, seperti Karachi dan Lahor.

Megasurya terbilang sadar betul betapa pentingnya membangun merek setelah produknya bisa masuk ke suatu negara. “Kami tidak bisa cuma ekspor, lalu selesai.” ucap Hadi. Di Pakistan dan India, Harmony bahkan sampai mengajak bintang film terkenal di sana untuk iklan komersial, baik di televisi, media cetak maupun iklan billboard. Tidak tanggung-tanggung, iklan Harmony juga diselipkan dalam keping CD film yang dipasarkan di sana.

Hadi bercerita, India adalah negara yang terbilang tidak mudah dimasuki. Pasalnya, di negara tersebut produsen sabun begitu banyak sehingga pemerintah cenderung menutup pasarnya untuk sabun impor. Toh, Harmony sejauh ini berhasil menjadi merek sabun impor terkuat.

Keberhasilan Harmony menjadi merek global, Hadi mengklaim, karena sebagai yang pertama di dunia menciptakan ceruk pasar sabun beraroma buah. Hebatnya, lantaran jadi pelopor, Harmony bahkan telah menjadi nama generik. Salah satu merek sabun di Turki yang juga negara produsen sabun, ada merek Diana yang sampai menyebut: Diana Harmony Soap. “Sebenarnya dia mau sebut Diana sabun buah, karena sabun buah identik dengan Harmony. Orang tahunya Harmony. Seperti Aqua di sini yang jadi merek generik untuk air minum dalam kemasan.” Hadi menceritakan.

Beruntung Harmony memiliki keunikan sebagai sabun beraroma buah pertama di tiap negara yang dimasuki. Tidak harus masuk dengan merebut pasar yang sudah ada, melainkan menciptakan pasar baru. Meski begitu, strategi harga yang diterapkan terbilang hati-hati. “Kami banyak melakukan riset terlebih dahulu sebelum masuk ke pasar.” ucap Bahari Karim, pendiri sekaligus Dirut Megasurya. Seperti di India yang telanjur sesak diisi banyak merek, harga sabun di sana dijual 5-15 rupee, sedangkan Harmony dibanderol 9 rupee. Di Arab Saudi, Harmony juga dikemas dalam kotak menarik isi 6 seharga 5 real.

Selera konsumen pun turut jadi pertimbangan. Di beberapa negara yang masyarakatnya suka aroma buah yang kuat, seperti orang di Indonesia, Harmony diproduksi tanpa perubahan khusus. Namun, di Jepang, Taiwan dan Eropa yang warganya tidak terlalu senang sabun dengan aroma kuat, wangi sabun dikurangi. Begitu juga soal tuntutan kualitas, masing-masing negara berbeda. Tentu, tulisan di kemasan juga disesuaikan.

Bahari menuturkan, industri sabun sudah lama ada. Sebagai gambaran, di Indonesia saja, Unilever telah puluhan tahun mengisi pasar. Di beberapa negara lain di dunia Unilever juga sudah lama hadir. “Tanpa keunikan yang ditawarkan Harmony, sangat sulit masuk ke pasar sehingga kami juga konsisten dengan keunikan itu.”

Kesuksesan Megasurya bukan berarti tanpa rintangan. Karena begitu kuatnya Megasurya membangun merek di beberapa negara potensial, Harmony juga menghadapi pemalsuan merek, terutama dari India dan Cina. Hebatnya lagi, merek Harmony dengan jenis dan tipikal huruf identik dipakai pula untuk merek sampo, deodoran dan bedak. Padahal, Megasurya hanya punya Harmony untuk produk sabun. Kasus plagiat merek itu juga terjadi di Pakistan dan Dubai.

Namun, pasar Harmony tak tergoyahkan karena kualitas produk yang berbeda. Bahkan agar makin kompetitif di pasar global, berbagai jurus terus dilakukan. “Untungnya, kami memproduksi sendiri bahan baku utamanya, sehingga harga produk dapat bersaing. Kualitasnya pun dapat terus dijaga karena semua produk kami selalu di bawah pengawasan tenaga ahli di bagian laboratorium dan produksi.” kata Hadi sambil membeberkan sejumlah sertifikasi, antara lain Certificate GMP di Iran, ISO 9001 (2000), ISO 14001 (1996), HACCP serta GMP.

Kini, berkat kegigihannya itu Megasurya telah menuai hasil. Para pembeli dari luar negeri pun mulai berdatangan langsung ke pabrik yang juga memproduksi sabun kesehatan Medicare dan sabun minyak kayu putih Tropicare.  “Ini membuktikan kesuksesan produk-produk kami.” lanjutnya bangga.

Dan, meski grafik penjualan terus menanjak, Megasurya tak berpuas hati, tapi tetap gencar berpromosi. “Kami belum puas dengan prestasi merek kami. Meski produk kami sudah diekspor ke banyak negara dan di beberapa negara tertentu ada yang telah menjadi market leader untuk kategori sabun impor, pangsa pasar yang bisa direbut belum maksimal.” Hadi menegaskan penuh semangat.

(Reportase: Abraham Susanto, Riset: Asep Rohimat)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • dedik  On Maret 11, 2011 at 8:23 am

    Alhamdulillaah, saya kagum dan bangga mengetahui ada produk Indonesia Asli yang sudah jauh melangkah hingga manca negara/
    ….
    I have a dream to be one of this Great Global Market Penetration Teams/ Go International !

    • emenrizal  On Maret 12, 2011 at 6:06 pm

      Sekarang juga banyak lo entrepeunar muda yang masuk ke pasar internasional dengan waktu yang lebih cepat…saatnya yang muda yang bekarya🙂

  • anne  On Mei 6, 2011 at 2:30 am

    ikut bangga mambacanya….
    walo cm 2,5 th…saya pernah menjadi bagian dr PT. Megasurya Mas…
    tempat menimba ilmu, mengabdi, dan berkarya…
    sukses selalu Mr. Bahari Karim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: