Grup Wings: Sang Follower


“Menjadi follower atau nomor dua bukanlah hal yang tabu, selama nomor satu masih sangat kuat. Tinggal menjaga konsistensinya dan berharap nomor satu mendapat masalah. Kesialan nomor satu akan membuat nomor dua menjadi leader. Tentu dibutuhkan konsistensi dan kesiapan system yang bagus. Reportase dibawah ini sangat bagus untuk referensi anda yang mencoba menjadi nomor satu setelah menguntit di posisi dua.” Em En Rizal


Bayangkan, setiap hari Wings mendatangi ibu-ibu rumah tangga lewat 29 produknya. Sabun colek, detergen, pewangi pakaian, pelembut, pembalut wanita, sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, body lotion, sari buah, mi, dan lain-lain. Semuanya dengan harga lebih rendah dibanding pesaingnya yang lebih dulu hadir. Keistimewaan grup usaha ini, kata pakar pemasaran Hermawan Kartajaya, dia memiliki modal cukup, kemampuan teknologi dalam ramuan kimia, mitra strategis, dan pemahaman terhadap pasar Indonesia.

Julukan paling tepat buat Grup Wings (PT Sayap Mas Utama) yang didirikan di Surabaya pada 1949 oleh Katuari bersama Wakijo Tanojo dan Harjo Sutanto ini adalah Sang  Follower.  Seorang pengamat pemasaran mengatakan, kalau mau jadi follower yang sukses, contohlah Wings.  Hampir seluruh produk Wings memang mengekor market leader. Senjata andalan Wings merebut pasar (selain kualitas) terutama adalah harga yang lebih murah.  Wings sangat perkasa di industri detergen melalui sejumlah merek unggulan seperti SoKlin, Daia, serta sabun colek Wings Biru dan Cream Ekonomi.

Menjadi follower sekalipun tentu bukan tanpa ilmu.  Seorang sumber mengatakan, Grup Wings telah meriset semua produk yang ada di pasar.  Para pemasok bahan kimia dunia seperti Ciba yang ahli di bidang detergen, membantu merumuskan formula untuk detergen yang hendak diproduksi.  Nah, kapan produk itu diluncurkan ke pasar, tinggal menunggu waktu yang tepat.  Ambil contoh  Daia.  Produk ini diluncurkan saat krismon pada 1998 untuk mengisi pasar yang ditinggalkan Rinso dan SoKlin karena harganya melonjak.  Dengan harga perdana Rp 6.500/kg, saat itu ceruk ini praktis hanya diisi Daia.  Kejelian ini membawa sukses (Daia pernah menguasai 30% pangsa pasar detergen bubuk).

Asto Sunu Subroto, Dirut PT Mars Capricon (perusahaan di bidang riset pemasaran) menilai, struktur industri Grup Wings sangat tangguh. Kompetensinya diperkuat dengan menguasai industri hulu alkylbenzene (bahan baku detergen). Tak heranlah, produk sabun dan detergennya bisa bersaing dari segi harga. Selain itu, Wings ditunjang beberapa perusahaan dagang dan distribusi yang dikelola sendiri. “Dengan kelengkapan infrastruktur seperti itu, Wings mudah mengembangkan produknya secara vertikal dan horisontal. Dia tinggal memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangunnya dari hulu ke hilir, baik lewat aliansi maupun ekspansi,” Asto menjelaskan.

Membangun aliansi strategis adalah jalur cepat Grup Wings menjadi follower sukses.  Sebagai contoh, melalui aliansi dengan Lion Corporation (Jepang) dengan mendirikan PT Lionindo Jaya Corp., dengan  mudah Wings  masuk industri produk preparat, bedak bayi, pasta gigi (Ciptadent) dan kertas pembersih. Dengan cara seperti itu Wings belakangan masuk industri makanan, minuman serbuk Jas-Jus, dan mi instan (Mi Sedaap).

Menurut Asto, diversifikasi yang melebar ke industri makanan dan minuman itu masih nyambung dengan kompetensi inti Grup Wings, karena struktur yang dibutuhkan oleh produk makanan dan toiletries masih sama, meski komponen industrinya berbeda. Apalagi, potensi pasar produk makanan sangat besar, dan Wings memiliki permodalan lebih dari cukup. “Langkah tersebut relatif lebih aman, karena produk makanan relatif lebih mudah bertahan dari gempuran asing dibanding produk toiletries. Memang bahayanya juga ada, karena fokusnya mulai hilang. Tapi, itu bisa ditutup dengan cara aliansi seperti yang dilakukan Wings selama ini,” papar Asto.

Beraliansi dengan mitra yang jago di bidangnya, kata Manajer Penjualan Departemen Bisnis Internasional SMU Hendra Sunardi, adalah salah satu kekuatan Grup Wings. Dalam urusan ini, Wings telah memiliki jam terbang cukup tinggi. Sejak 1975, Wings sudah biasa menjalin aliansi. Ketika mau memproduksi alkylbenzene sulfonat (1975) misalnya, Wings beraliansi dengan PT Sinar Antjol (produsen sabun B-29), plus dua perusahaan Jepang (Teikoku Kako Co. Ltd. dan Toyo Menka Kaisha Ltd.). Bersama mereka mendirikan PT Fideco Jaya, produsen bahan detergen.

Lalu, dengan Grup Salim dan Sinar Mas, Wings mendirikan PT Unggul Indah Corp. (1983). Perusahaan ini memproduksi alkylbenzene dan heavy alkylate. Dengan PT Petrokimia Gresik dan PT Kodel, Wings mendirikan PT Petrocentral yang memproduksi sodiumtripolyphosphate (bahan baku industri detergen). Daftar ini bisa diperpanjang, misalnya dengan aliansi yang dijalin bersama Lion Corp (1989), dan lain-lain.  (Reportase: Abraham Susanto,Riset : Asep Rohimat)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: