Grup Rekso: Tak Lagi Sekadar Bisnis Minuman Teh


“Group Rekso, sebagai salah satu leader dalam bisnis minuman teh, saya cuplikan sejarah mereka sebagai pelengkap kisah group-group besar lainnya. Group Rekso ini, yang membidani teh sosro, menganut falsafah padi. Makin tua makin menunduk, Mereka berekpansi dan membesarkan perusahaan dengan tenang namun cepat. Kita tiba-tiba terhenyak begitu group ini mengakusisi McD Indonesia. Sudah tidak sabar, sebaiknya segera baca artikel dibawah ini.” Em En Rizal

Berawal dari teh, bisnis keluarga Sosrodjojo terus menggurita. Produknya yang fenomenal, Teh Botol Sosro, telah menjadi mesin uang bisnis keluarga asal Slawi, Jawa Tengah, ini. Setelah Teh Botol Sosro terus merajai pasar, keluarga Sosro pun mulai melirik bisnis lain dengan mengibarkan bendera Grup Rekso (GR) atau PT Anggada Putra Rekso Mulia yang berdiri pada 27 November 1997.

GR didirikan Soegiharto, generasi kedua keluarga Sosro. Memang harus diakui, Soegiharto adalah motor penggerak bisnis keluarga Sosro. Pasalnya, adik dan kakak kandung Soegiharto serta keturunan mereka lebih memilih membesut bisnis masing-masing. Kendati ada saudaranya itu yang sama-sama membesarkan bisnis ini, kepemilikan sahamnya tidak sebesar saham milik keluarga Soegiharto.

Bisnis GR pun sekarang tak hanya teh atau minuman, meski bisnis ini tetap menjadi andalannya. GR telah merambah berbagai sektor bisnis: properti, kecantikan, hingga yang terbaru adalah bisnis resto dengan mengakuisisi McDonal Indonesia (McD). Soegiharto tak sendirian dalam membesarkan GR, tetapi dibantu lima anaknya yang semuanya lulusan sekolah di luar negeri. Mereka adalah Peter Soekianto Sosrodjojo, Joseph Soewito Sosrodjojo, Richard S. Sosrodjojo, Kurniati Sosrodjojo dan Sukowati Sosrodjojo. Kelima anaknya itu ditempatkan Soegiharto di berbagai bisnis yang berada di bawah GR.

Peter, anak tertua, duduk sebagai komisaris di GR. Adapun Joseph didapuk sebagai Chief Executive Officer PT Sinar Sosro, produsen Teh Botol Sosro dan Teh Kotak yang menjadi tambang uang grup ini. Laba bersih Sinar Sosro selama 2008 sebesar Rp 1,8 triliun — Rp 9 miliar berasal dari keuntungan ekspor; tujuan ekspornya adalah Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Australia, Amerika Serikat dan negara-negara Timur Tengah.

Selanjutnya, Richard dipercaya mengelola PT Agropangan Putra Mandiri. Perusahaan yang berdiri pada 30 Agustus 2000 ini memiliki lima anak usaha yang mengurusi perkebunan, yakni PT Sinar Inesco, PT Cibuniwangi, PT Karya Sinar Ciguha, PT Perkebunan Gunung Rosa Djaja dan PT Perkebunan Gunung Manik. Satu-satunya wanita di keluarga Sosrodjojo, Kurniati, mengelola PT Puri Tirta Kencana. Perusahaan termuda (berdiri pada 2004) dalam GR ini menekuni bidang yang memanjakan kaum perempuan: perawatan kecantikan dan kesegaran tubuh dengan fasilitas spa, bekerja sama dengan Martha Tilaar. Adapun si bungsu Sukowati memegang PT Adhi Putra Mulia. Perusahaan ini menguasai Hotel Mercure di bilangan Hayam Wuruk, Jakarta. Selain hotel, Suko juga yang membesut PT Rekso Nasional Food yang mengakuisisi McD Indonesia.

Menurut Taufik, Chief Business Officer MarkPlus Inc., nama GR baru populer belakangan ini dan menjadi sesuatu yang menarik. Grup ini secara nama memang baru, tetapi pilar-pilar bisnisnya telah lama ada seperti PT Sinar Sosro (minuman), PT Gunung Slamat (teh seduh dan celup), PT Sinar Jatimulia Gemilang (packaging), Adhi Putra Mulia (properti), PT Agropangan Putra Mandiri (agribisnis), PT Puri Tirta Kencana (kebugaran dan kecantikan), dan yang paling baru PT Rekso Nasional Food (divisi pengembangan waralaba [resto]).

Taufik juga sepakat, kekuatan keluarga Sosro ada pada bisnis minuman dan agribisnis. Menurutnya, di bisnis minuman, keluarga ini sudah tergolong lengkap, antara lain bisnis minuman ready to drink dan air mineral. Sebetulnya, sah-sah saja GR terjun ke bidang lain seperti properti atau bisnis kebugaran. Hanya saja, menurut Taufik, grup besar harus bisa menciptakan pilar bisnisnya seperti apa. Ketika orang berbicara tentang GR, maka karakternya seperti apa dan bagian mana yang membedakannya dari grup lain. Kalau melihat bisnis minuman, Sosro sudah punya keunggulan sebagai spesialis di bidang teh, sampai ada slogan “Sosro Ahlinya Teh. Nah, Grup Rekso sendiri akan seperti apa karakternya ke depan. Apakah ready drink product. Karena jika bicara konglomerasi, harus bicara kekuatannya ada di mana.” ujar Taufik mempertanyakan.

Terlepas dari itu, Taufik melihat, GR merupakan perusahaan yang bagus dengan penguasaan pasar yang inovatif. Hanya saja, ketika GR mengambil waralaba McD, banyak orang kaget. Mereka bisa saja menjadi salah satu pemimpin ready to drink di indonesia. Dari situ bisa meluas lini bisnisnya, sebagaimana dilakukan Grup Djarum yang masuk ke bisnis perbankan atau properti, tetapi bisnis intinya tetap rokok.

Taufik juga mempertanyakan siapa yang membuat grup ini menjadi besar? Ini menarik karena grup ini sangat low profile. Banyak orang yang penasaran mengapa perusahaan ini tidak go public, dan tetap bertahan sebagai bisnis keluarga. “Grup Rekso termasuk family bisnis yang modern karena dikelola dengan profesional. Ini sangat menarik karena kalau dilihat dari produknya, sangatlah inovatif, mulai dari kemasan hingga varian rasa sangat inovatif.” ungkap Taufik memuji.

Seorang pengamat yang namanya tak bersedia disebutkan mengatakan, putra-putri Soegiharto memiliki peran besar dalam memajukan GR. Salah satu kunci sukses keluarga ini: “mereka sangat hati-hati melakukan sesuatu, tetapi cukup berani mengambil momentum. Umpamanya, saat pertama kali teh dimasukkan dalam botol di mana saat itu belum ada perusahaan yang berani. Di balik grup yang tenang, ada inovasi yang dahsyat. Hanya saja, hati-hati.” kata sang pengamat ini.

Teh Botol Sosro mulai diproduksi pada awal 1970-an. Tentu saja, itu menjadi momentum bersejarah bagi keluarga Sosro karena kelak jenis produk inilah yang menjadi titik keunggulan Sosro dibanding pemain bisnis teh lain di Indonesia. Saat itu, untuk mengenalkan produk minuman teh siap saji ini, putra ketiga Sosrodjojo, Soetjipto, sabar melakukan samplingd engan cara mempersilakan konsumen mencicipi rasa minuman tehnya. Proses sampling banyak dilakukan di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Meski mulai populer, pada 1970 itu produksi Teh Botol Sosro belum melalui proses manufacturing dalam pabrik besar. Proses pabrikan yang lebih serius baru dilakukan tahun 1974, tepatnya 17 Juli, ketika PT Sinar Sosro berdiri di Ujung Menteng, Bekasi. Pendiri perusahaan ini adalah tiga putra Sosrodjojo, yakni Soegiharto, Soetjipto dan Surjanto. Dua tahun kemudian, sang sulung, Soemarsono, turut bergabung.

Buat keluarga Sosrodjojo, tahun 1974 selalu dikenang dengan penuh kebanggaan. Bagaimana tidak, Sinar Sosro bukan saja pabrik minuman teh botol siap saji pertama di Indonesia, tetapi juga di dunia. Sejak itulah, jalan peruntungan kian terbuka lebar karena produk minuman tersebut terus merangsek pasar tanpa tanding. Bahkan, jadi ikon teh dalam kemasan dan menjadi kebutuhan banyak orang sehingga satu demi satu pabrik pun terus dibuka agar Teh Botol Sosro makin dekat dengan pelanggannya. Gresik, Ungaran, Medan, Pandeglang, Gianyar dan Cibitung menjadi lokasi berdirinya pabrik Sosro.

Bak kuncup daun teh yang terus merekah, begitu juga bisnis keluarga Sosro. Tahun 1981, mereka mendirikan PT Union Multipack, pabrik yang memungkinkan mereka memproduksi minuman nonbotol. Bersamaan dengan berdirinya pabrik di Tambun, Bekasi, dilakukan juga ekstensifikasi bisnis lewat strategi pengemasan. Tahun itu meluncurlah Teh Botol kemasan kotak atau Teh Kotak.

Dari kesuksesan The Botol Sosro itulah, keluarga Sosro lewat GR mampu merambah berbagai lini bisnis yang sekarang ditangani generasi ketiga keluarga Sosrodjojo. Akan tetapi, tantangan yang dihadapinya tidaklah ringan. Munculnya berbagai jenis minuman dalam kemasan, seperti Minute Maid Pulpy Orange dan teh hijau Nu Green Tea, yang direspons pasar dengan baik serta makin tingginya kesadaran orang untuk hidup sehat, sehingga lebih suka minum air mineral, jelas menjadi ancaman bagi bisnis teh dalam botol perusahaan ini. Bahkan, seorang sumber yang dapat dipercaya mengungkapkan, produksi Teh Botol Sosro sudah turun sekitar 30%, dan ada mesin produksi yang telah ditutup.

Maka, masuk ke bisnis lain memang menjadi pilihan bagi kelompok perusahaan ini agar bisa terus tumbuh dengan bisnis-bisnis baru. Bahkan, beberapa bisnis bisa disinergikan, misalnya dengan menjadikan Teh Botol Sosro sebagai minuman wajib di gerai McD yang dikelola Rekso Nasional Food. Dengan demikian, GR tetap perkasa sebagai perusahaan andalan Indonesia di masa depan.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: