Tony Fernandes: Berani Out of the Box


“Tony Fernandes, sosok yang dihormati dalam bisnis penerbangan. Beliau terkenal nekat dan sangat kreatif. Seseorang yang patut dihormati. Mungkin kisah ini bisa membuat anda semakin semangat. Kisah ini ditulis oleh : Eva Martha Rahayu”  by : Em En Rizal

Di tangan Tony Fernandes, sesuatu yang mustahil bisa menjadi kenyataan. Ketika naik pesawat terbang menjadi gaya hidup mewah, Tony malah menyulapnya sebagai hal biasa untuk semua orang. Dengan jargon “Now Everyone Can Fly”, dia membuat semua orang bisa terbang dengan Air Asia miliknya. Ya, Tony tidak saja mengubah peta industri penerbangan di Asia dengan kehadiran Air Asia, tetapi juga membawa banyak terobosan di Indonesia dengan konsep low cost carrier (LCC) yang diusungnya.

Uniknya, meski awalnya berbeda dari yang lain dan merupakan pendatang baru di bisnis transportasi udara, Air Asia berkembang sangat pesat. Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Udara, tahun 2009 jumlah penumpangnya untuk penerbangan internasional mencapai 1,98 juta orang dengan pangsa pasar 40,09%. Sementara untuk penerbangan domestik, ada 1,45 juta penumpang dengan pangsa pasar 4,34%. Decak kagum pun bertambah karena jumlah armadanya terus meningkat, ditargetkan 60 unit pesawat pada 2011.

Tampaknya Tony konsisten dengan bisnis yang minimalis. Lihat saja, setelah sukses dengan bisnis maskapai LCC Air Asia, dia menjajal peruntungan di bisnis hotel yang berkonsep no frill. Tune Hotel, inilah nama hotel besutan pria yang suka memakai topi bisbol warna merah ini. Hotel anyar tersebut membuat gebrakan dengan persembahannya: pengalaman tidur di hotel bintang 5, tetapi dengan harga bintang 1.

Tune Hotel pertama kali beroperasi di Malaysia. Bagaimana dengan di Indonesia? Pada 6 November 2009 Tune Hotel resmi dibuka di Bali, sebanyak dua cabang sekaligus: di Kuta dan Seminyak. Hebatnya, baru dibuka, tingkat hunian sudah mencapai 90%. Sambutan pasar yang antusias mendorong Tony berekspansi. Dalam waktu dekat, dia hendak mengepakkan sayap bisnis hotelnya ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan Solo. Sejumlah negara pun menjadi target berikutnya, antara lain Thailand, Vietnam, Myanmar, Filipina, Cina, Inggris, Prancis dan Australia.

Tentu saja, keberhasilan maskapai Air Asia dan Tune Hotel tidak bisa dilepaskan dari kreativitas Tony yang menjadi CEO. Intinya, Tony itu jika sudah punya kemauan, diwujudkan. Tidak ada kata tidak mungkin, pasti bisa, ujar Dharmadi, Direktur Indonesia Air Asia, mengomentari kegigihan dan sikap inovatif atasannya ini.

Hermawan Kartajaya mengamini soal persistensi ini. Tony adalak sosok yang nekat, tapi (punya) perhitungan. Berani out of the box, tapi masih tetap di jalurnya (on the track), ungkap mahaguru pemasaran dari MarkPlus&Co. itu. Dikatakannya, dengan latar belakang finance, Tony bisa berhitung dengan cermat, sehingga tidak boleh buang duit for do nothing. Justru kegilaan Tony pada finance itulah yang membuatnya tetap low budget, high impact, Hermawan menjelaskan.

Nah, agar chemistry tercipta dalam kerja sama tim Tony, menurut Dharmadi, anggotanya harus ulet, pintar cari terobosan, tahan dalam situasi kerja yang dinamis, serta tidak mudah stres. Mereka harus siap dan cepat tanggap memahami keinginan sang bos. Sebab, Tony sering mengajak diskusi secara tak terduga. Bisa tiba-tiba dia (Tony) menelepon, (kirim) SMS atau e-mail, ucap Dharmadi. Pembicaraan formal ataupun informal dilakukan saat makan siang bersama atau kesempatan lain. Selain laporan tim, untuk memonitor perkembangan bisnis, Tony mengandalkan BlackBerry dan laptop.

Setahu Dharmadi, banyak ide gila yang diwujudkan Tony. Bosnya itu dinilai sangat ulet dalam mencari celah untuk mewujudkan gagasan bisnis. Umpamanya, ide membuka jalur Singapura-Kuala Lumpur (KL) dengan pesawat Air Asia. Tony paham bahwa kendala politis kebijakan masing-masing pemerintah, khususnya Pemerintah Singapura, sebenarnya tidak memungkinkan ada rute dari KL menuju Changi (p.p.) dengan pesawat selain Singapore Airlines. Namun, hingga detik ini Tony masih ngotot memperjuangkannya. Salah satu caranya, melakukan kampanye publikasi pentingnya penerbangan aman dan murah bagi masyarakat dan perekonomian kedua negara secara aktif dan terus-menerus. Tujuan kampanye adalah membentuk opini masyarakat, siapa tahu bisa menjadi tekanan publik. Saat kampanye publikasi ini belum membuahkan hasil, dia melakukan terobosan lain: bekerja sama dengan Jet Star untuk co-branding.

Ide gila lainnya dari Tony, diungkapkan Hermawan. Soal Air Asia buka jalur Surabaya-KL, tuturnya. Mengapa? Pasalnya, waktu itu belum ada jalur penerbangan langsung Surabaya-KL (p.p.) dengan tarif murah sekitar Rp 500 ribu. Potensi pasarnya pun masih diragukan, benarkah banyak orang melakukan traveling Surabaya-KL? Rupanya insting bisnis itu lagi-lagi terbukti tajam. Tony berhasil menciptakan demand untuk pasar Surabaya-KL, yang kemudian diikuti pembukaan jalur KL ke beberapa kota besar lain di Indonesia.

Gebrakan Tony lainnya adalah menggandeng Manchester United dan Formula-1. Ini dilakukan demi menjadikan Air Asia sebagai merek global. Tidak tanggung-tanggung, dia juga menjadikan dirinya sekaligus sebagai brand ambassador Air Asia dengan aktif turun
langsung di setiap aktivitas perusahaan penerbangan itu.

Sekarang Tony berusaha mewujudkan penerapan LCC untuk penerbangan jarak jauh (long houl) dari Asia ke Eropa, Australia atau ke Amerika Serikat. Salah satu cara merealisasi ide itu, menggandeng Jet Star untuk penerbangan ke Australia dan akhirnya membuka penerbangan langsung dengan pesawat Air Asia ke Australia. Ini juga sedang dicoba untuk tujuan London.

Bentuk lain kreativitas Tony bisa terlihat dari efisiensi Air Asia. Dia kreatif menekan biaya. Air Asia tidak bisa sekadar mengandalkan jurus no food, no VIP lounge, no newspaper atau no headpones. Maka, dicarilah sumber penghematan lain, seperti no ticket (cukup tanda bukti tanpa nomor seat), no middleman (jual tiket online sebanyak mungkin), no garbarata (minta pilot menyentuh landasan di titik sejauh mungkin dengan kecepatan serendah mungkin agar ban pesawat lebih awet), serta mewajibkan awak kabin membersihkan sendiri bagian dalam pesawat, sehingga memungkinkan waktu turnaround lebih cepat dan armada pun lebih produktif.

Juga, ide menggunakan satu jenis dan tipe pesawat: Boeing 737-300 terbaru. Tujuannya, menekan biaya pemeliharaan. Apalagi, pesawat baru bisa mendongkrak citra dan memungkinkan mengudara lebih lama ketimbang pesawat yang sudah tua.

Tony pun gesit menambah pemasukan. Meski no food gratis di dalam pesawat, pramugari aktif menjajakan makanan dan minuman buat penumpang dengan harga yang tidak murah. Juga, besar-besaran menggarap iklan di dalam kabin. Selain itu, Tony merekrut sumber daya manusia terbaik. Berangkat dengan keyakinan good people attract good people, dia senantiasa merekrut karyawan terbaik, sehingga mereka mampu bekerja mulai dari memberikan pertolongan pertama hingga mengurus bagasi.

Kreativitas lain Tony, menciptakan budaya kerja egaliter. Latar belakangnya di Warner Music mendukung itu. Sang CEO ini tidak segan membersihkan kabin dan mencari tempat duduk sendiri, sehingga semua karyawan memiliki sense of belonging tinggi terhadap perusahaan. Tak lupa, Tony melancarkan ide strategi membeli bahan bakar dengan membayarnya di muka demi menghindari kenaikan harga minyak.

Bagaimana bentuk kreativitas Tony dalam mengelola Tune Hotel? Sesuai dengan konsep no frill, layanan yang diberikan hotel ini sungguh-sungguh layanan mendasar. Selebihnya, untuk setiap layanan ekstra, tamu wajib membayar. Penentuan harga disesuaikan dengan musim, ketersediaan barang dan jangka waktu pemesanan. Dengan kata lain, jika reservasi kamar jauh-jauh hari, kemungkinan mendapatkan tarif kamar murah lebih besar. Sebagai informasi, tarif kamar termurah Tune Hotel sekitar Rp 68 ribu per malam. Namun, saat peak season, misalnya liburan Natal, Tahun Baru dan Lebaran, tarifnya naik berkali lipat, misalnya Rp 500 ribu semalam. Hotel ini memberlakukan masa penginapan dihitung 20 jam per malam, yaitu check in pukul 2 siang dan check out maksimal pukul 10 pagi.

Tony sangat total dalam mewujudkan ide bisnisnya. Kemampuan akuntansi mendukungnya dalam menganalisis apakah ide-ide bisnisnya itu value for money atau tidak. Jika Tony yakin, ide segera direalisasi, kata Sendjaja Widjaja, Direktur Utama PT Tune Hotels Regional Services Indonesia.

Itulah sebanya, di Tune Hotel, jangan harap tamu akan mendapatkan sandal, handuk, sabun atau odol gratis. Sekali lagi, untuk keperluan ekstra dikenakan biaya. Sebagai gambaran, sewa handuk Rp 17 ribu, sewa pengering rambut Rp 7 ribu, tarif AC untuk 12 jam Rp 50 ribu dan 20 jam Rp 83 ribu, serta fee Wi-Fi Rp 55 ribu untuk 24 jam.

Dijelaskan Sendjaja, pada prinsipnya ide Tune Hotel sama dengan Air Asia. Dengan kata lain, mengapa harus bayar mahal untuk sekadar terbang dari satu kota ke kota lain atau dari satu negara ke negara lain. Begitu juga halnya, mengapa mesti bayar mahal untuk sekadar tidur di hotel, jika waktunya banyak digunakan untuk jalan-jalan berwisata. “Inilah mengapa saya bisa katakan bahwa Tony salah satu creative entrepreneur di Asia,  tambahnya.

Terlepas dari ide-ide gila dalam bisnis penerbangan dan perhotelan, Dharmadi menjelaskan, Tony juga membiasakan orang-orangnya selalu berpikir kreatif. Bahkan, dia memberikan kesempatan kedua bagi tim yang melakukan kesalahan dalam mewujudkan idenya. Mereka diminta memperbaikinya. Ada kalanya dia mendikte timnya selaiknya guru terhadap murid. Namun, caranya mendikte itu justru membuat orang merasa tidak terdikte sama sekali. Kelebihan itu hanya Tony yang punya, ujarnya. Betul, termasuk kelebihan dia mewujudkan mimpi sebagai pebisnis yang disegani di tingkat regional dan global.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: