Ekspedisi Pulau Sempu


Melihat Sang Bidadari Di Selatan Jawa

18-22 Oktober 2007

“catatan adalah sejarah yang tidak bisa dibantah. Catatan adalah sepenggal jati diri yang ditinggalkan untuk dibaca kemudia hari. Sepenggal kisah petualangku disempu ini, terjadi 3 tahun lalu, semoga  bisa bermanfaat bagi semua.Oleh Em En Rizal

Semangat Tinggi !!!

Kamis, 18 Oktober 2007

Akhirnya datang juga hari keberangkatan itu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya aku kembali lagi ke Pulau sempu. Pulau yang terkenal karena keperawanan dan kecantikannya. Banyak orang datang untuk melihat keelokan dan keasliannya. Oleh karena itu tak salah jika pulau Sempu layak di sebut Sang Bidadari. Terakhir kali aku mengunjunginya pada tahun 2003. Waktu yang cukup lama untuk sesuatu yang indah.

Saat itu, tahun 2003, aku masih awam dengan sesuatu yang berbau tour atau perjalanan-perjalanan wisata. Aku dan teman-temanku, anak FKG Unair angkatan 2001, hanya mengunjungi Pulau Sempu, Malang Selatan, berbekal nekat dan semangat saja. Walhasil, banyak sekali perlengkapan yang tidak perlu, kami angkut juga. Dan hasilnya? kami kehabisan tenaga karena membawa barang-barang tak perlu. Perjalanannya menjadi sangat melelahkan dan membosankan. Tapi satu hal yang aku ingat saat itu, aku dan yang  lain menyadari kalau alam, khususnya pulau Sempu ini, wajib dilestarikan karena keindahannya yang alami, tanpa polesan, dan hanya sedikit didunia ini. Sayang sekali jika semua keindahan itu musnah di kemudian hari hanya karena olah dan kenakalan tangan manusia jahil. Sedih bila melihat kerusakan, coretan atau sampah yang ditinggalkan para pengunjung yang hanya bersenang-senang dan merusak alam. (* cukup ya sedihnya, hehehe)

Dengan motivasi mengulang perjalanan empat tahun lalu dan membuatnya lebih berkesan, aku, Andi, Dias, David, Mbak. Yani dan Luluk, mempersiapkan diri sebaik mungkin kesana. Mengunjungi pulau yang dikatakan surga oleh para turis mancanegara. Mendengar namanya saja, semangatku langsung terbakar apalagi mendatanginya, ehm sungguh makin tak sabar aku untuk segera berangkat kesana.

Tanggal 18 Oktober 2007,pagi hari, di kos Andi. Aku dan Andi kewalahan mengatur jadwal karena beberapa peserta membatalkan keikutsertaannya. Rencananya ada 13 orang yang akan ikut ambil bagian dalam ekpedisi kali ini. Tapi sampai jam sembilan pagi, sudah setengah lebih yang membatalkan. Akhirnya aku mengatur ulang jadwal dan keputusannya, setelah berunding dan berdebat panjang(*debat kusir antara aku dan andi), kami memutuskan untuk berangkat siang hari. Berubah dari jadwal semula yang malam hari. Planning yang kusiapkan selama seminggu ini berubah total. Huff capek dehh!!

Tepat jam 15.00 WIB kami semua berangkat menuju ke Malang, ke tempat Mas Yudha sekalian pinjam tenda. Kami mengendari 3 sepeda motor, dengan formasi yang hebat. Tepat jam 17.00 kami sampai di rumah Mas Yudha. Disana kami istirahat dan menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang Pulau Sempu. Mas Yudha mempunyai banyak informasi tentang Pulau Sempu karena dia baru pulang dari sana beberapa waktu lalu. Mas Yudha sendiri adalah dosen di salah satu PTS di Malang.

Ketika makan malam, Mas Yudha memberi nasehat pada kami. Menurutnya kami menginap saja di rumahnya malam ini dan berangkat pagi dini hari nanti karena alasan keselamatan dan keamanan, karena ada wanita diantara kami. Beberapa tidak setuju karena sudah tak sabar untuk mencium aroma air laut dan desiran ombaknya. Mereka berfikir lebih baik camping di Sendang Biru sambil menikmati malam disana. Yang setuju beralasan, masalah stamina dan keselamatan. Akhirnya dengan pertimbangan keselamatan dan kondisi fisik kami, para joki, yang begadang semalaman sebelumnya, akhirnya diputuskan untuk berangkat pagi dini hari sesuai saran Mas Yudha. Hemm, selalu, dalam perjalanan ada pertentangan yang menguras tenaga.

Jumat, 19 Oktober 2007

Pukul 03.45 WIB, rombongan berangkat diselimuti hawa dingin kota Malang. Motor melaju kencang membelah jalan Malang – Turen. Dalam rangka mengejar waktu, sepeda motor kami pacu sekencang mungkin. Sayang, kami tak mengecek kondisi sepeda motor masing-masing. Di desa Bulu Lawang, sepeda motor David mengalami lepas tutup oli. Sebenarnya ini bukanlah suatu masalah besar karena baut tersebut bisa dibeli di toko onderdil di manapun. Namun itu menjadi sebuah masalah dalam perjalanan setelah kami tak menemukan satu toko pun yang buka. Maklum, selain masih dalam suasana lebaran, waktu juga masih menunjukkan pukul 05. 45 WIB.

Setelah mencari kesana-kemari, dibantu informasi satpam perusahaan dimana kami berhenti, akhirnya masalah sepeda teratasi. Dengan perasaan lega, kami melanjutkan perjalanan. Dan pukul 07.30, kami sampai juga di Sendang Biru. Aroma udara laut menyambut kami. Hati yang miris dan bokong yang rata karena jauhnya perjalanan hilang seketika. Bahkan Luluk yang ngomel sejak malam kemarin langsung sumringah dan berteriak-teriak ingin mandi di laut.

Setelah mengurus administrasi dan mengisi perut yang lapar akut, akhirnya pukul 08. 45 WIB kami menyebrang ke Pulau Sempu lewat Waru-Waru menggunakan jasa Pak Sumarno. Dan kami mendapat harga Rp 65.000,00. Ini termasuk murah karena Pak Sumarno pernah mengantarkan David waktu kunjungan sebelumnya. Sekedar informasi harga standart sewa perahu Rp. 75.000,00.

Lima belas menit kemudian  sampailah kami di Waru-Waru. Disana kami disambut pemandangan yang membuat muka para cewek memerah. Ada satu keluarga yang sedang menikmati keindahan Sempu dengan berenang di tepi pantai Waru-Waru. Nah, masalahnya para lelakinya hanya mengenakan celana dalam, bukan celana renang!

Setelah berdoa, kami melangkahkan kaki menembus hutan belantara. Menurut informasi, jalur Waru-Waru – Telogo Lele bisa ditempuh dalam waktu satu jam karena jalurnya jelas. Setelah menembus semak belukar, kami menemukan jalur makadam. Benar-benar sangat jelas dan ngetrek!

Kami membutuhkan waktu 50 menit untuk sampai Telogo Lele. Telogo lele yang kami lihat adalah sebuah telaga kecil, kira-kira seluas lapangan sepakbola, yang dikelilingi lumpur dan pohon-pohon tumbang ditepinya. Sangat jelas sekali kalau tempat ini jarang dikunjungi. Jarang kami temukan sampah dan bekas pembakaran disana. Ini justru suatu keuntungan karena Telogo Lele akan terjaga keasliannya. Kami menikmati kesunyian ini dengan duduk berselonjor sambil memandangi air telaga yang tenang diringi kicau burung dan “nyanyian” monyet disekitar kami. Benar-benar suasana yang berbeda. Susah banget ditemukan di kota suasana ini.

Istirahat selesai!. Kami pun bersiap meneruskan perjalanan yang belum setengah ini. Ketika kami hendak berangkat, kami dikejutkan oleh suara gonggongan anjing yang cukup keras. Ternyata ada orang keturunan yang mengunjungi Telogo Lele dengan anjing holdernya. Kami pun beramah tamah sebentar. Kami segera melanjutkan perjalanan dengan menyusuri tepi kiri danau. Namun ini kesalahan fatal kami. Kami salah mengartikan informasi yang diberikan petugas resort. Kami mengira kami harus menyusuri danau dari kiri padahal itu larangannya. Dan ketika kami melakukannya, kami hanya menemukan jalan buntu dan membingungkan. Tak ada jalur! Hanya semak belukar saja. Aku dan Andi harus berputar-putar mencari jalur kesana kemari, meninggalkan yang lain di tengah hutan. Namun setelah satu setengah jam berusaha, dan hanya menemukan jalan buntu, kami berdua menyerah. Menyerah pada kaki kami yang tak bisa diajak kompromi.

Setelah bediskusi cukup lama (*selalu diskusi, diskusi selalu!!), kami memutuskan untuk kembali ke Sendang Biru dan menelpon Pak Sumarno. Namun sebelum itu, kami makan siang dahulu. Sambil menunggu makan siang tersaji, aku dan Andi segera berputar untuk mencari jalan lagi, kali ini kami mengikuti insting David yang melihat jalur di kanan telaga. Dan ajaib, feeling David benar. Ada jalur disana. Aku dan Andi terus mengecek sampai kami menemukan sebuah tempat yang luas yang ditumbuhi semak belukar. Luasnya sama dengan Telogo Lele. Kalau kami nggak salah, itulah Telaga Panjang. Dan ini masuk akal, karena jaraknya hanya 300 meter menurut Mas Dian. Dan juga masih berdasarkan infonya, telaga ini di musim kemarau nggak ada airnya. Jadi setelah mengecek dengan detail kami yakin kami dijalur yang benar. Kami berdua segera kembali dan menyampaikan berita gembira ini pada yang lain.

Tepat pukul 13.50 kami melanjutkan perjalanan. Dan empat puluh menit kemudian kami sampai di Telogo Sat. Sebuah telaga yang telah kehilangan airnya. Luasnya dua kali Telogo Lele. Airnya juga hilang seperti di Telaga Panjang. Dan menurut informasi disini justru lebih banyak hewannya daripada Telogo Lele, salah satunya ikan lele, ketika musim hujan.

Setelah menikmati keheningan dan keindahan yang disuguhkan pada kami, kami melanjutkan perjalanan menuju Telaga Panjang. Kami tidak menyusuri tepi telaga melainkan menyebrang langsung melewati tengahnya. Kami serasa sedang menyeberangi lapangan sepak bola dengan para lutung sebagai penontonnya. Kami tetap wasapada karena suasana “hening” yang mengiringi kami. Kami merasa kami diawasi selama “penyeberangan” ini.

Perjalanan semakin berat karena jalurnya yang semakin hilang. Sebenarnya jalur mulai kabur sejak meninggalkan Telaga Lele namun jalur dari Telaga Sat lebih gila lagi karena semua jalur hampir sama. Masalahnya kami tidak membawa perlengkapan yang wajib ada. Kompas!! Maka kami hanya mengandalkan insting kami selama menempuh perjalanan menaklukan beberapa gunung di Jatim. Dan sepertinya firasat kami perlu dilatih lagi karena kami GAGAL menemukan Pantai Panjang karena kami sulit membaca medan.

Tapi Tuhan Maha Adil. Kami diberikan pantai yang tidak kalah indah dengan Pantai Panjang. Kami diberikan Pantai Empat dan Pantai Tiga. Dan kami memutuskan untuk camping di Pantai Empat karena lebih luas dan kondusif.

Di Pantai Empat ini kami menghabiskan waktu dengan main ombak dan mencari makanan. Banyak yang berfoto-foto untuk mengabadikan pantai yang jarang dikunjungi orang itu. Malam hari kami memasak dengan keterbatasan sarana dan prasaran. Namun kami selalu bercanda untuk membuat suasana lebih indah.

Sang Bidadari Yang Tergores

Sabtu, 20 Oktober 2007

Pagi hari aku keliling pantai untuk mencari keong laut untuk dimasak nantinya. Yang lain tidak mau karena jijik. Aku bersikeras untuk membawanya. Hemm kalo ditimbang-timbang sih kurang lebih 4 kiloan. Berat kotor nih. Tapi nggak apa-apa, karena kalo matang, dagingnya uenaaak banget.

Kami meninggalkan Pantai Empat pukul 09.50 WIB. Sepanjang perjalanan kami menemukan banyak percabangan dan juga suara deburan ombak. Namun karena kami takut kesasar lagi, kami memutuskan untuk tetap menuju ke Segoro Anak. Dan setelah berjalan kurang lebih dari dua jam, akhirnya kami bertemu dengan Segoro Anak.

Namun semua kesenangan kami serasa sirna setelah menemukan apa yang ada dihadapan kami. Tempat yang kami bayangkan seperti Pulau Surga serasa sirna seketika setelah menemukan banyaknya sampah pengunjung. Tak ada bedanya dengan pantai-pantai kotor di Jawa Timur lainnya. Bidadari yang ada dalam bayangan kami serasa sedang menangis karena tubuhnya penuh luka akibat oleh manusia. Sang bidadari tergores. Tergores cukup dalam.

Namun karena sudah kepalang tanggung sampai disana, kami memutuskan untuk ngecamp juga, sambil mengingat kenangan indah di kepala masing-masing sewaktu berkunjung kesini beberapa waktu yang lalu. Yah kadang impian tak seindah kenyataan, bukan?

Namun itu tak menyurutkan niat Luluk untuk mandi dan berenang mengelilingi Segoro Anak. Mengejek Andi yang hanya bisa memandanginya dari jauh. Maklum dia tidak bisa berenang (* hahahaha). Sedangkan David berburu foto bahkan sampai di puncak karang. Sungguh laki-laki berjiwa fotographer kelas dunia.

Malam hari kami menikmati malam dengan makan kerang yang aku ambil dari pantai empat sambil bermain Remi. Tak hanya itu, kami juga menyelipkan beberapa diskusi “berat” diantaranya. Pukul sembilan, akhirnya kami masuk tenda karena malam sudah “hening”.

Kejutan Terakhir

Minggu, 21 Oktober 2007

Kami segera berkemas pagi-pagi buta karena kami sudah mengirim sms ke Pak Sumarno, yang mengabarkan kami minta dijemput pukul  8 pagi. Setelah memastikan semua sampah terbawa, kami meninggalkan Segoro Anak pukul 07.10 WIB. Apesnya, sepanjang perjalanan kami diguyur hujan yang cukup deras. Mungkin ini air kiriman dari Tuhan karena kami belum mandi sejak kemarin.

Dan  dalam tempo 50 menit aku sampai di Teluk Semut. Mungkin durasi ini lebih cepat bagi Luluk dan Mbak Yani yang berada jauuuh di depan. Sayang ada sedikit misskomunikasi dengan Pak Sumarno. Dia tidak menerima sms kami. Setelah berganti nomor, kami baru bisa menghubunginya. Jadi kami menunggu di tepi Teluk Semut sambil bermandikan air hujan yang turun malu-malu membasahi kami.

Akhirnya pukul 09.00 WIB kami meninggalkan teluk semut setelah perahu jemputan datang. Ternyata perahu kami sudah datang, sayang mereka salah jemput orang. Mereka menjemput orang yang harusnya pulang pukul 11 siang. Sesampainya di Sendang Biru, sudah terdapat beberapa pengunjung yang menikmati pemandangan dan berenang di tepi pantainya. Aku yakin jumplahnya makin bertambah karena inilah akhir liburan panjang Idul Fitri dan firasatku terbukti beberapa menit kemudian. Kami sendiri segera menuju ke rumah Pak Mahdi untuk mengambil sepeda motor yang kami parkir disana. Sedangkan para cewek segera berebut mandi di belakang rumahnya.

Karena merasa terlalu lama menunggu para cewek, aku dan David memilih mandi ke Mushola, namun saat hendak mengeluarkan sepeda motor, David tak menemukan kunci di sakunya. David mulai panik karena setelah 15 menit mencari, kunci itu tak ditemukan. Aku membantunya dengan menanyakannya pada Pak Mahdi, namun dia bilang tidak tahu. David ingat kalau kunci itu ditaruh di jaket dan sialnya jaket itu hilang saat meninggalkan warung makan hari jumat lalu.

Aku dan dia segera menuju warung tersebut untuk menanyakan siapa tahu jaketnya tertinggal. Namun bukan jawaban yang baik yang keluar. Justru jawaban tidak mengenakan yang mampir di telinga kami. Dengan lesu, David kembali ke Pak Mahdi. Bahkan saking tidak bersemangatnya, dia tidak berminat mandi sama sekali (dasar jorok!).

Perjalanan pulang kami jalani dengan perasaan cemas karena takut sewaktu-waktu bensin David habis. Memang sepeda motornya telah bisa dihidupkan namun bensin tetap tidak bisa diakalin. Jadi kami berharap pada tukang kunci yang ada di kota terdekat.

Dan alhamdulillah semua teratasi ketika kami sampai di Malang, di rumah Mas Yudha. Disana semua problem serasa teratasi dengan suguhan rujak buah manis dari Mas Yudha. Terima kasih Mas, sudah mau kami repoti selama ekpedisi kali ini. Dan sampai jumpa  pada perjalanan berikutnya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • vandaxa  On Februari 8, 2011 at 11:03 pm

    dulu saya juga pernah kehilangan kunci, di samping rumah cak Di kan ada bengkel motor. saya minta bantuan ke mekanik tsb, alhasil kunci kontak motor dapat diakali & jok bisa dibuka dg melepas engsel

    • emenrizal  On Februari 9, 2011 at 6:29 am

      Ya lebih beruntung dong🙂
      Kapan kembali lagi ke sempu untuk tahun ini?

      • vandaxa  On Juli 31, 2011 at 7:29 am

        mungkin gk akan kesana lagi, izinnya ruwet
        tapi kalo ada yg mau ngajak kesana bisa dipikirkan kembali

  • Pras Perkasa  On Oktober 28, 2013 at 7:22 am

    Keren pengalamannya berkesan banget kayaknya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: