Perjalanan Gurita Bisnis Grup ABC


“Sebagai pembanding gurita bisnis group Wings, saya sertakan kisah dari group ABC. Perusahaan besar keluarga besar yang beberapa produknya menguasai pasar/leader. Walau masih ada riak-riak kecil dalam kepemimpinan perusahaan namun secara umum group ini mempunyai masa depan yang sangat cerah dan saat ini merupakan salah satu perusahaan keluarga besar di Indonesia. Dengan menggunakan sistem pemasaran modern dan pemahaman bisnis yang modern pula, Group ABC bertransformasi terus menerus dan hasilnya selalu menjadi yang terbaik. Maka cocok kiranya kita menyimak kisah dibawah ini sebagai pembanding dan juga inspirasi di kemudian hari.” Em En Rizal.

Kiprah Grup ABC di bisnis consumer goods tak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan, Grup ABC boleh dibilang sebagai salah satu ikon penting, selain Indofood, di industri tersebut. Kecap, saus sambal, sirup, sari buah dalam kotak ABC, wafer Tango, dan batu baterai ABC tercatat sebagai pemegang pangsa pasar tertinggi di kategori produk masing-masing.

Namun, tak banyak yang tahu siapa saja aktor di balik sukses dan mengguritanya Grup ABC. Perusahaan keluarga ini sangat low profile, bahkan cenderung tertutup. Padahal, dari tahun ke tahun, bisnis mereka makin berkibar dan membubung. Di tangan generasi kedua, kepak sayap bisnisnya menggurita ke berbagai lini bisnis. Grup ABC sukses menancapkan taringnya sebagai perusahaan keluarga yang eksis dan solid. Bahkan, beberapa produknya telah meramaikan pasar internasional.

Cikal bakal Grup ABC bermula dari usaha keluarga yang didirikan oleh dua bersaudara: Chandra Djojonegoro alias Chu Sam Yak dan Chu Sok Sam di Medan pada 1948. Awalnya, mereka berdagang aneka barang, antara lain anggur tradisional yang dikemas dalam botol. Selang dua tahun, tepatnya 14 Februari 1950, mereka menggandeng Lim Kok Liang, Lim Tong Chai, dan Lim Mia Chuan mengibarkan NV Handel Maatschappij May Lian & Co. Perusahaan ini memproduksi minuman anggur tradisional Cap Orang Tua di Semarang, Jawa Tengah.

Seiring menyebarnya produk anggurnya ke seantero Nusantara, perusahaan ini lantas berubah menjadi PT Perindustrian Bapak Djenggot (PBD). Boleh dibilang, inilah cikal bakal Grup Orang Tua dan Grup ABC yang kemudian menggurita ke berbagai ranah bisnis. Di PBD, kepemilikan saham dua bersaudara Chu — Chandra dan Chu Sok Sam — sebesar 42,4%. Menurut data AC Nielsen, PBD tercatat sebagai produsen terbesar herbal wine tradisional yang menguasai sekitar 70% pangsa pasar. Produknya, antara lain Anggur Wine, Fruit Wine, Beras Kencur Wine, dan Anggur Malaga. Produk anggur kolesom ini juga mampu menembus pasar mancanegara.

Kelompok usaha ini mulai mengepakkan sayapnya pada 1959 lewat PT Everbright Battery Factory, memproduksi baterai ABC. Keluarga Chu menguasai 31% sahamnya. Hampir sedasawarsa kemudian, 1968, mereka mengembangkan International Chemical Ind. CL yang juga memproduksi baterai ABC. Di perusahaan ini dua bersaudara itu memiliki 46,4% saham. Tahun 1973, mereka makin agresif membiakkan perusahaan dengan mengakuisisi PT Uni Djaja sebesar 31,9%, produsen kamput di Medan.

Bisnis consumer goods mulai dirambah dua Chu pada 1975 dengan mengibarkan PT ABC Central Food Industry. Di perusahaan ini mereka menguasai 53% saham. Tahun berikutnya, mereka masuk ke industri toiletries dengan produk perdana sikat gigi Formula lewat PT Ultra Prima Abadi. Di perusahaan ini keluarga Chu tercatat sebagai pemegang saham mayoritas dengan penguasaan 68,5% saham. PT Ancol Terang Printing yang membidangi kemasan kaleng mereka bangun pada 1978 dengan kepemilikan 40%.

Dekade 1980-an, bisnis mereka tambah menggurita di tangan generasi ke-2. Sepeninggal Chandra yang kembali ke Sang Khalik 1988 — Chu Sok Sam meninggal lebih dulu pada 1986, kelompok usaha ini lantas dikendalikan oleh dua putra Chandra: Husain dan Hamid Djojonegoro. Sementara itu, dari generasi ke-2 Chu Sok Sam ada Sumito, Vincent Kus Chu dan Kogan Mandala Choo.

Upaya melanggengkan bisnis keluarga ini memicu mereka membangun perusahaan investasi yang berfungsi mewakili kepemilikan saham di perusahaan. Toh, dalam perjalanan waktu, masing-masing juga membangun kerajaan bisnis sendiri, meski terlihat ada saling silang kepemilikan. Semisal, di PT Artha Boga Cemerlang –perusahaan distribusi, Hamid memiliki 25% saham pribadi dan sisanya dimiliki grup: keluarga Chu.

Di antara ketiga generasi kedua keluarga Chu, Hamid terlihat yang paling agresif mengembangkan bisnis pribadi meski kemudian dikembangkan dalam skema kerja sama antarkeluarga. Selain Artha Boga Cemerlang, Hamid juga tercatat sukses mengibarkan, antara lain, PT Puri Ngajogjakarta (hotel bintang empat di Kota Gudeg yang berkapasiats 200 kamar), PT Crownprince Jasaboga (jasa boga) dan pabrik minyak goreng di Bekasi PT Darmex Oil & Fat. Hamid memang dipercaya membesarkan Grup Orang Tua.

Hamid juga tercatat membidani kelahiran PT Panjang Jiwo Pangan Makmur (1982). Berlokasi di Surabaya, perusahaan ini memproduksi aneka minuman kesehatan: Kiranti, Larutan Penyejuk Panjang Jiwo, dan Larutan Penyejuk Orang Tua dan permen Tango. Kiranti tercatat satu-satunya produk minuman kesehatan bagi wanita yang sedang menstruasi. Kiranti juga mengeluarkan produk untuk pegal linu: Kiranti Pegal Linu. Sementara itu, permen Tango menempati posisi ke-6 dari 10 pemain di industri permen di dalam negeri.

Di tangan Hamid, Husain, dan Kogan, kelompok usaha ABC dan Orang Tua makin menggurita dan merambah berbagai lini bisnis. Ekspansi pun terus dilakukan dengan cara membangun sendiri maupun mengakuisisi perusahaan lain. Tahun 1983, dari pihak Chu Sam Yak atau Chandra membangun PT Haniwell Murni Company. Di perusahaan yang menghasilkan pembalut wanita merek Innosense, Honeysoft, dan Modess untuk PT Johnson & Johnson Indonesia itu, keluarga Chu Sam Yak memiliki saham 50%.

Geliat pasar batu baterai yang menggairahkan membuat mereka kembali mengakuisisi perusahaan lain pada 1982. Separuh saham PT Hari Terang Industrial Co. Ltd. dicaploknya. Untuk menguasai pasar batu baterai nasional, pada 1989 PT FDK Indonesia dikibarkan dengan kepemilikan saham 22,5%. Dengan memiliki empat pabrik batu baterai — Everbright, International Chemical, Hari Terang, dan FDK — mereka adalah raja untuk pasar batu baterai dengan menguasai 60%-70% pangsa pasar baterai nasional.

Sukses sikat gigi Formula membuat mereka lebih agresif lagi menggarap ladang toiletries. Lewat PT Brushindo Cemerlang –kemudian dikenal dengan PT Ultra Prima Abadi 2 dan 3 — yang didirikan tahun 1984, mereka tampak serius menggarap pasar sikat gigi dan pasta gigi. Selain Formula, mereka juga meluncurkan merek Durodont, Abc Dent, dan Formula Junior. Di perusahaan ini keluarga Chu tercatat mempunyai saham 78,9%. Sikat gigi Formula mencatat rekor sebagai pemimpin pasar (30%), mengalahkan Pepsodent dan Oral B. Menurut pengamat pemasaran Roy Goni, dominasi Formula memaksa Pepsodent memosisikan diri pada kelas urban karena tak mampu menembus rural market yang dikuasai Formula. Merek Formula juga mencatat prestasi dengan produk inovasi teranyarnya: pembersih lidah.

Sementara itu, di industri consumer goods, mereka mulai melirik pasar biskuit dengan membangun PT Danone Biskuit Indonesia pada 1994. Di sini keluarga Chu menguasai saham 26%. Setahun berikutnya, mereka juga membangun PT Danone Biskuits Sales & Distribusi. Saham mereka di sini sangat kecil, hanya 5%. Namun, tahun 1998 dan 1999, kepemilikan saham di kedua perusahaan itu dilepas. Menilik tahunnya, sepertinya karena hajaran krisis ekonomi. Divestasi saham juga dilakukan tahun 2000 terhadap kepemilikannya di PT FDK Indonesia sebesar 22,5%. Mereka lantas mendirikan FDK Intercallin, perusahaan patungan dengan Alpha Industries Co. Ltd. dan Fuji Electrochemical Co. Ltd. yang memproduksi baterai Alkaline. Perusahaan ini dipercayakan pengelolaannya di tangan Husain.

Melepas saham di Danone bukan berarti ambisi mereka mencengkeram ladang bisnisconsumer goods surut. Justru mereka makin agresif dengan menggandeng H.J. Heinz, berkantor pusat di Amerika Serikat. Nama perusahaan pun yang semula PT ABC Central Food berubah menjadi PT Heinz ABC Indonesia. Langkah aliansi ini dilakukan untuk memperkuat posisi produk ABC di kawasan Asia. Maklum, sejak 1980, produk seperti sirup, sambal, dan saus tomat sudah diekspor ke berbagai negara, seperti AS, Kanada, Australia, Singapura, Malaysia, Brunei, Taiwan, Hong Kong, Jepang, Denmark, Arab Saudi, Belanda, dan Inggris. Sampai saat ini perusahaan ini memiliki tiga pabrik: di Karawang, Daan Mogot (Jakarta), dan Pasuruan. PT Heinz Indonesia dikendalikan oleh Kogan.

Menggandeng pihak asing juga mereka lakukan dalam memproduksi Kratingdaeng, melalui PT Asiasejahtera Perdana Pharma (1991). Minuman energi ini berasal dari Thailand, dengan merek Red Bull. Di perusahaan ini mereka memiliki saham sampai 65%. Perusahaan ini di bawah komando Husain. Ia juga tercatat mempunyai bisnis pribadi, antara lain PT Indofica Housing yang dikenal sebagai salah satu pengembang di Sunter, Jakarta; restoran Crystal Jade Palace di Jakarta; dan pemilik saham PT Bank Alfa (20%) — dilikuidasi Pemerintah pada 1997.

Tahun 1990-an, lewat grup, mereka juga agresif mengakuisisi beberapa perusahaan. Tercatat perusahaan yang dibeli, PT Gunarajuli Setia (61,5%), PT Melatitunggal Intiraya (61,5%), Asti Dama Adhimukti (97,5%), PT Duta Nusa Idaman (100%), Rajuli Reksa (68,5%), Asiatic Union Perdana (75%), dan terakhir tahun 1999 mengakuisi PT Ultra Prima Pangan Makmur (68,5%). PT Rajuli Reksa kemudian berubah menjadi PT Ultra Prima Abadi 4 yang merupakan pabrik talk dan sampo di Jakarta dengan merek Atalia. Sementara itu, Ultra Prima Pangan Makmur adalah produsen biskuit wafer Tango dan Milcow. Wafer Tango tercatat sebagai pemicu kebangkitan pasar wafer yang terkesan tidur. Tango membuat terobosan dengan mengemas wafernya lebih sederhana dengan kemasan kecil. Didukung komunikasi dan aktiviats pemasaran yang gencar, wafer Tango sukses memimpin pasar biskuit wafer.

Seperti pepatah tak ada gading yang tak retak, Grup ABC pun tak selalu menuai sukses. Mie ABC dan Mie President yang dihasilkan oleh PT ABC President Enterprises Indonesia — didirikan tahun 1992 dengan kepemilikan saham 32,9% — masih tampak merayap mengejar ketertinggalan dari dominasi Indomie (Indofood). Begitu pula minuman Galin Bugar, kurang mendapat respons pasar. Sementara itu, mi instan Selera Rakyat dan Happy Mie yang diproduksi oleh PT Artha Milenia Pangan Makmur kini tengah digenjot pemasarannya.

(Riset: A. Windarto dan Siti Sumariyati)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • wezt  On February 20, 2011 at 12:23 am

    Gara-gara baterai ABC, waktu umur 3 tahun (di tahun 1979) aku sudah kenal huruf dan sudah bisa baca di tahun yang sama…
    Untung ada ABC. He he he… (bukan iklan lho)

  • ade  On March 12, 2011 at 2:25 pm

    susahnya nyari saos sambal kemasan jirigen isi 24kg ditempatku.

  • gatot  On April 16, 2013 at 3:12 am

    inspirator

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 357 other followers

%d bloggers like this: